FACEINDONESIA.CO.ID-Pemulihan sektor pendidikan pascabencana di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, terus menunjukkan kemajuan. Sebagian siswa SD Negeri 10 Linge yang selama berbulan-bulan mengikuti pembelajaran di bawah tenda kini mulai menempati empat unit Ruang Kelas Darurat (RKD) yang dibangun di Desa Jamat.
Penggunaan ruang kelas darurat tersebut ditandai dengan prosesi Tepung Tawar pada Senin (20/7). Kegiatan ini dihadiri oleh siswa, guru, perangkat desa, serta berbagai pihak yang terlibat dalam pembangunan fasilitas belajar sementara tersebut.
Sejak banjir melanda wilayah Kecamatan Linge pada akhir 2025, kegiatan belajar mengajar di SDN 10 Linge dilaksanakan di dua lokasi, yakni Tenda 01 di Desa Reje Payung dan Tenda 02 di Desa Jamat. Skema ini diterapkan untuk memudahkan akses siswa dari kedua desa sekaligus mengurangi jarak tempuh menuju lokasi pembelajaran.
Beroperasinya empat unit ruang kelas darurat memberikan lingkungan belajar yang lebih aman dan nyaman bagi siswa yang sebelumnya belajar di Tenda 01. Sementara itu, siswa di Tenda 02 masih menjalani pembelajaran di bawah tenda sambil menunggu pembangunan fasilitas serupa.
Kepala SDN 10 Linge, Nurdin, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyediaan ruang kelas darurat tersebut. Menurutnya, kolaborasi berbagai pihak menjadi langkah penting untuk memastikan proses pembelajaran tetap berlangsung di tengah masa pemulihan pascabencana.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Kemendikdasmen, MDMC Muhammadiyah, Dinas Pendidikan Aceh, dan sejumlah instansi terkait yang telah berkontribusi dalam pembangunan ruang kelas darurat ini,” ujar Nurdin.
Ia menjelaskan bahwa sekolah sebelumnya mengusulkan pembangunan tujuh unit ruang kelas darurat untuk siswa di Tenda 01 dan empat unit untuk Tenda 02. Hingga saat ini, empat unit telah terealisasi dan dimanfaatkan oleh siswa.
“Setidaknya anak-anak yang sebelumnya belajar di Tenda 01 sekarang dapat mengikuti pelajaran dengan lebih nyaman dibandingkan ketika masih berada di tenda,” katanya.
Sementara itu, Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra terus memperkuat koordinasi dengan kementerian, pemerintah daerah, dan berbagai mitra untuk mempercepat penyediaan ruang kelas darurat bagi siswa di Tenda 02 agar seluruh peserta didik dapat belajar di lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung keberlangsungan proses pendidikan.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal, Gogot Suharwoto, menegaskan bahwa pemulihan sarana pendidikan merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memastikan layanan pendidikan tetap berjalan bagi seluruh peserta didik, termasuk di wilayah terdampak bencana.
“Kami berharap perbaikan sarana dan prasarana ini tidak hanya mengubah kondisi fisik bangunan sekolah, tetapi juga membangkitkan semangat belajar peserta didik dan mendorong peningkatan kualitas pendidikan,” ujar Dirjen Gogot.
Sementara itu, Sekretariat Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Kemendikdasmen bahwa pihaknya telah melakukan pemetaan Kebutuhan Ruang Kelas Darurat (RKD) Wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat Tahun 2026 sebagai bahan koordinasi dan tindak lanjut pemenuhan layanan pendidikan bagi peserta didik terdampak bencana terutama dalam melaksanakan arahan Bapak Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah agar tidak ada lagi sekolah terdampak bencana Sumatra yang belajar di Tenda. Berdasarkan kebutuhan RKD tahun 2026 sebanyak 343 RKD di 106 Satuan Pendidikan, sudah terpenuhi sebanyak 313 RKD di 89 Satuan Pendidikan, dan masih diperlukan 30 RKD dari 17 Satuan Pendidikan yang terdiri dari 14 Satuan PAUD, 2 SD, dan 1 SMP yang belum terpenuhi di tiga provinsi tersebut.
Pemetaan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah agar tidak ada lagi sekolah terdampak bencana di wilayah Sumatra yang melaksanakan pembelajaran di bawah tenda.(ZID)






