FACEINDONESIA.CO.ID- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong agar peningkatan impor bahan baku dan barang modal diikuti investasi, peningkatan kapasitas produksi, serta perluasan pasar ekspor.
Wakil Ketua Umum Kadin bidang Perindustrian, Saleh Husin, mengatakan kenaikan impor saat ini banyak mencerminkan penguatan aktivitas produksi dan investasi. Hal tersebut terlihat dari komposisi impor Januari-Juli 2026 yang didominasi bahan baku/penolong dan barang modal hingga 91,33 persen.
“Untuk saat ini, kenaikan impor lebih banyak menunjukkan penguatan aktivitas produksi dan investasi karena 91,33 persen impor Januari-Juli terdiri dari bahan baku/penolong dan barang modal,” ujar Saleh dalam keterangannya, Kamis (1/10/2026).
Meski demikian, Kadin menilai pertumbuhan impor yang lebih cepat dibandingkan ekspor perlu menjadi perhatian. Pada Januari-Juli 2026, ekspor tumbuh 4,43 persen, sementara impor meningkat 19,94 persen.
Menurut Saleh, yang perlu diperhatikan bukan hanya peningkatan impor, tetapi bagaimana barang yang masuk dapat meningkatkan kapasitas produksi, produktivitas, dan ekspor industri nasional.
“Kita perlu memastikan impor produktif diikuti investasi, peningkatan kapasitas dan produktivitas industri, serta ekspansi pasar ekspor,” katanya.
Kadin juga mendorong pemerintah menjaga daya saing industri melalui biaya energi dan logistik yang kompetitif serta menjamin ketersediaan bahan baku.
Penguatan industri antara, rantai pasok domestik, kepastian regulasi, perluasan akses pasar, dan hilirisasi juga dinilai penting agar peningkatan impor memberikan manfaat berkelanjutan bagi industri dalam negeri.
Kadin melihat prospek ekspor Indonesia hingga akhir 2026 masih positif, terutama karena ditopang industri pengolahan. Beberapa sektor yang berpeluang meningkatkan ekspor antara lain makanan dan minuman, agroindustri, logam dan hilirisasi mineral, elektronika, mesin, serta otomotif dan komponennya.
Sementara itu, industri padat karya seperti tekstil, pakaian jadi, alas kaki, dan furnitur masih menghadapi tantangan biaya produksi, produktivitas, teknologi, dan persaingan global.
Kadin mendorong perubahan struktur ekspor dari komoditas menuju produk manufaktur bernilai tambah dengan kandungan domestik lebih tinggi. Dengan demikian, impor bahan baku dan barang modal dapat menjadi bagian dari penguatan kapasitas produksi sekaligus mendorong peningkatan ekspor Indonesia.(DRI)






