Ini Tiga Fokus Utama Pengembangan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dok.Kemenag

FACEINDONESIA.CO.ID – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Asep Saepudin Jahar memaparkan tiga fokus utama pengembangan kampusnya. Pengembangan UIN Jakarta saat ini berfokus pada tiga hal utama, yakni penguatan reputasi keilmuan, akselerasi transformasi kelembagaan, dan rekognisi internasional.

Hal ini disampaikan Asep Jahar saat Buka Puasa Bersama, Silaturahmi, dan Santunan yang digelar Ikatan Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (IKALUIN) Pusat, di Serpong, Jumat (13/3/2026). Hadir dalam kesempatan ini, para pengurus dan tokoh alumni yang juga pimpinan di sejumlah lembaga. Di antara mereka, ada Ketua Umum IKALUIN Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, Sekretaris Jenderal IKALUIN Dr. H. Rizaludin Kurniawan, M.Si., Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Prof. Arskal Salim, M.A., Ph.D., Dirjen Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A., Ketua Majelis Fatwa MUI Pusat Prof. Dr. H. M. Asrorun Ni’am Sholeh, M.A., serta Rektor UIN Jakarta Periode 2014–2019 Prof. Dr. Dede Rosyada, M.A.

Bacaan Lainnya

Asep Jahar berharap dukungan para alumni agar akselerasi pengembangan kelembagaan dan akademik UIN Jakarta bisa terus berjalan dengan baik. Untuk penguatan reputasi keilmuan, dia menegaskan urgensi penguatan academic culture di lingkungan kampus. Menurutnya, budaya akademik yang kuat menjadi fondasi bagi lahirnya karya ilmiah, inovasi, dan tradisi intelektual yang berkualitas di lingkungan UIN Jakarta.

“Reputasi keilmuan membutuhkan _academic culture_ yang mendukung. Ini yang terus kita perkuat di UIN Jakarta,” ujarnya.

Di sisi transformasi kelembagaan, Rektor Asep Jahar menjelaskan bahwa perjalanan UIN Jakarta merupakan proses perubahan yang berkelanjutan. Transformasi tersebut dimulai dari Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA), kemudian menjadi IAIN, hingga berkembang menjadi universitas dengan status UIN.

Selain itu, secara tata kelola kelembagaan, UIN Jakarta juga terus mengembangkan status kelembagaannya dari satuan kerja (Satker), kemudian Badan Layanan Umum (BLU), dan saat ini tengah didorong menuju Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri Badan Hukum (PTKN-BH). “Perubahan ini merupakan proses transformasi yang terus berlangsung untuk memperkuat tata kelola, kemandirian, dan daya saing institusi,” jelasnya.

Terakhir di fokus rekognisi internasional, Rektor menegaskan bahwa pengakuan global menjadi keniscayaan bagi perguruan tinggi saat ini. UIN Jakarta, menurutnya, terus mendorong berbagai program studi untuk meraih akreditasi internasional serta meningkatkan posisi dalam berbagai pemeringkatan perguruan tinggi.

Saat ini, lebih dari 50 program studi di UIN Jakarta telah memperoleh akreditasi internasional dari lembaga akreditasi internasional seperti ASIIN dan ACQUIN. Dalam pemeringkatan akreditasi nasional, selain institusi, mayoritas program studi juga telah mencapai akreditasi Unggul.

Selain itu, UIN Jakarta juga terus mendorong pencapaian ranking perguruan tinggi skala dunia seperti pemeringkatan QS World University Ranking, Webometrics, UI GreenMetrics, dan lainnya. “Rekognisi internasional tidak bisa dihindari. Ini bagian dari upaya kita meningkatkan kualitas dan daya saing global UIN Jakarta,” tandasnya.

Ia menambahkan bahwa dalam pengembangannya, UIN Jakarta kini terus mengambil pengalaman terbaik tata kelola dan pengembangan akademik dari perguruan tinggi terkemuka di level nasional dan internasional. Ini dilakukan agar pengembangan UIN Jakarta bisa semakin terakselerasi dengan optimal.

“Kami berharap dukungan para alumni IKALUIN untuk selalu memberikan masukan, saran, dan kontribusi bagi peningkatan dan kemajuan UIN Jakarta ke depan,” pungkasnya.

Ketua Umum IKALUIN Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily menegaskan peran penting alumni dalam mendukung pengembangan perguruan tinggi Islam, termasuk UIN Jakarta. Menurutnya, jejaring alumni yang kuat dapat menjadi kekuatan besar bagi pengembangan institusi pendidikan, khususnya perguruan tinggi Islam di Indonesia.

Ace menekankan bahwa alumni memiliki peran strategis dalam mengawal perkembangan pendidikan tinggi Islam di tengah berbagai tantangan zaman. Menurutnya, kampus-kampus Islam saat ini menghadapi dinamika yang semakin kompleks, mulai dari perkembangan teknologi, tuntutan peningkatan kualitas riset, hingga persaingan global antarperguruan tinggi.

Karena itu, kata Ace, peran alumni tidak boleh berhenti pada nostalgia terhadap kampus, tetapi harus diwujudkan dalam kontribusi nyata bagi kemajuan institusi. “Alumni harus hadir sebagai bagian dari solusi. Kita punya pengalaman, jaringan, dan kapasitas untuk ikut mengawal perkembangan pendidikan tinggi Islam agar semakin maju dan relevan dengan kebutuhan zaman,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh alumni untuk terus memberikan gagasan, dukungan, serta kolaborasi yang dapat memperkuat posisi perguruan tinggi Islam di tingkat nasional maupun internasional. (San)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *