FACEINDONESIA.CO.ID- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) memperbaiki 20 Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) bagi keluarga prasejahtera di Lebak, Banten, Cianjur dan Sukabumi, Jawa Barat, serta Purworejo, Jawa Tengah.
Program bedah rumah ini melanjutkan kolaborasi BTN dan PPATK yang sebelumnya telah memperbaiki 15 rumah pada 2025. Dengan tambahan 20 rumah pada 2026, total 35 rumah telah menerima manfaat selama dua tahun.
Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengatakan, program bedah rumah merupakan salah satu upaya membantu masyarakat yang belum mampu memperoleh rumah melalui pembiayaan maupun memperbaiki hunian secara mandiri.
Menurutnya, masih banyak keluarga Indonesia yang tinggal di rumah yang belum memenuhi seluruh kriteria hunian layak. Tidak semua masyarakat juga mampu mendapatkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), terutama kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
“Karena itu, salah satu solusi yang bisa kami lakukan adalah melalui bedah rumah,” ujar Nixon di Desa Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten, Kamis (13/8/2026).
Nixon menegaskan, persoalan rumah tidak layak huni membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. BTN dan PPATK berkomitmen menjadikan program bedah rumah sebagai kegiatan tahunan, terutama di daerah yang masih menghadapi persoalan kemiskinan dan kemiskinan ekstrem.
“Apa yang kami lakukan masih bagian kecil. Namun, jika korporasi dan institusi bergerak bersama, ribuan rumah bisa diperbaiki setiap tahun,” katanya.
Program tersebut merupakan bagian dari transformasi BTN menuju Beyond Mortgage dengan semangat Membangun Rumah, Membangun Kehidupan. Hingga kini, BTN telah menyalurkan pembiayaan untuk sekitar 6,1 juta rumah di seluruh Indonesia.
Kepala PPATK Ivan Yustiavandana mengatakan, program bedah rumah juga menjadi bagian dari Gerakan Nasional Anti Pencucian Uang Indonesia yang telah memasuki usia 24 tahun.
“Ke depan, kegiatan seperti ini akan terus kami laksanakan bersama BTN,” ujar Ivan.
Kolaborasi BTN dan PPATK juga akan diperluas melalui literasi keuangan keluarga. Program ini diharapkan dapat mendorong perilaku finansial yang sehat dan berkelanjutan di lingkungan keluarga.
Salah seorang penerima manfaat, Sanatra, mengaku bersyukur rumahnya telah diperbaiki. Sebelumnya, ia bersama keluarganya tinggal di rumah yang rusak dan bocor.
“Dulu rumahnya mau roboh, bocor. Mau memperbaiki tidak punya uang. Alhamdulillah sekarang sudah bagus. Kami senang sekali, terima kasih BTN,” ujarnya.
Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah turut mengapresiasi program tersebut. Ia menyebut tingkat kemiskinan di Kabupaten Lebak masih sekitar 8,03 persen, dengan sekitar 5.000 warga masuk kategori kemiskinan ekstrem.
Ia berharap program bedah rumah dapat terus dilakukan untuk membantu masyarakat di Kabupaten Lebak.
Penerima manfaat program RTLH ditentukan melalui koordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman serta pemerintah daerah setempat. Prosesnya meliputi verifikasi kondisi rumah dan kelayakan penerima.
Program bedah rumah BTN dan PPATK ini sekaligus mendukung Program 3 Juta Rumah pemerintah serta memperkuat komitmen BTN untuk tidak hanya membangun rumah, tetapi juga meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.(ZID)






