FACEINDONESIA.CO.ID- Sejumlah akademisi menilai penerapan Biodiesel B50 memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional, terutama karena Indonesia tidak lagi mengimpor solar. Kebijakan ini dinilai mampu menghemat devisa sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Ekonom Universitas Negeri Manado (Unima) Robert Winerungan mengatakan penghentian impor solar dapat menghemat devisa hingga Rp170 triliun. Menurutnya, dana yang sebelumnya digunakan untuk impor BBM dapat dialihkan untuk memperkuat penguasaan teknologi di dalam negeri.
“Jadi B50 ini sangat menghemat devisa. Devisa kita tidak terkuras oleh impor BBM lagi. Ada impor BBM, tapi sudah bukan solar,” kata Robert, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Robert, penghematan devisa tersebut dapat dimanfaatkan untuk pengembangan teknologi nasional. Penguasaan teknologi diyakini mampu meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, dan membuat produk Indonesia semakin kompetitif di pasar global.
Selain itu, peningkatan pemanfaatan sawit sebagai bahan baku biodiesel dapat menciptakan kepastian permintaan. Kondisi tersebut dinilai membantu menjaga penjualan dan stabilitas harga komoditas sawit.
Robert juga mengapresiasi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang dinilai mampu menjalankan arahan Presiden terkait program swasembada energi.
Sementara itu, pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti mengatakan manfaat B50 terhadap ketahanan energi harus dilihat secara menyeluruh.
Menurut Yayan, industri sawit memiliki peran penting dalam perekonomian karena menyerap banyak tenaga kerja, membantu mengurangi kemiskinan di perdesaan, menjadi sumber devisa melalui ekspor, serta mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.
Namun, peningkatan penggunaan biodiesel hingga B50 harus dibarengi penguatan ekosistem pendukung. Kebutuhan bahan baku akan meningkat seiring bertambahnya porsi biodiesel.
Karena itu, produktivitas perkebunan sawit rakyat, diversifikasi bahan baku, dan penguatan pembiayaan menjadi faktor penting agar implementasi B50 dapat berjalan berkelanjutan.
Yayan menilai kebijakan pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan bahan baku dan menjaga kebutuhan pangan. Peningkatan produktivitas serta peremajaan perkebunan sawit rakyat dapat menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan bahan baku tanpa harus membuka lahan baru.
Ia menyebut Keputusan Menteri ESDM Nomor 113.K/EK.05/MEM.E/2026 telah mengatur arah kebijakan pencampuran biodiesel hingga 2030 dengan mempertimbangkan kesiapan bahan baku, pembiayaan, dan infrastruktur.
Dengan demikian, penerapan B50 tidak hanya berorientasi pada peningkatan campuran biodiesel, tetapi juga memperhatikan kesiapan ekosistem agar program dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia mulai berhasil mewujudkan swasembada energi. Salah satu indikatornya adalah produksi Biodiesel B50 berbasis minyak kelapa sawit.
Dalam pidato kenegaraan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026), Prabowo mengatakan penerapan B50 membuat Indonesia tidak lagi mengimpor solar.
Kebijakan tersebut mulai berlaku sejak 1 Juli 2026 dan disebut mampu menghemat devisa sekitar Rp170 triliun atau sekitar 9,5 miliar dolar AS.
Dengan penghematan tersebut, B50 dinilai berpeluang menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi impor.(ZID)






