PLN EPI Bidik 10 Juta Ton Biomassa per Tahun

FACEINDONESIA.CO.ID- PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) terus memperkuat ekosistem biomassa nasional dengan menargetkan pemanfaatan biomassa hingga 10 juta ton per tahun sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Program ini juga berpotensi menciptakan sekitar 150 ribu lapangan kerja hijau (green jobs) sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Strategi tersebut dilakukan melalui optimalisasi program co-firing di 52 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) PLN Group, pengembangan rantai pasok biomassa berbasis sumber daya dalam negeri, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha.

Bacaan Lainnya

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menyampaikan hal tersebut dalam Diskusi Panel Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Masyarakat Energi Biomassa Indonesia (MEBI) 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta.

Menurut Hokkop, pengembangan biomassa menjadi bagian penting dari strategi transisi energi untuk mengurangi ketergantungan terhadap batu bara sekaligus menciptakan nilai tambah dari limbah pertanian, perkebunan, dan kehutanan.

Sejak diterapkan pada 2020, program co-firing PLN terus berkembang. Hingga 2025, pemanfaatan biomassa telah mencapai 2,352 juta ton dan diterapkan di 52 PLTU.

Hokkop menjelaskan, potensi pemanfaatan biomassa bergantung pada teknologi pembangkit. PLTU dengan teknologi pulverized coal (PC) ditargetkan mampu menggunakan biomassa hingga 10 persen, circulating fluidized bed (CFB) di atas 25 persen, dan teknologi stoker di atas 70 persen.

“Jika seluruh potensi itu dikalkulasikan, kebutuhan biomassa PLN bisa mencapai sekitar 8–10 juta ton,” ujar Hokkop.

Salah satu keberhasilan optimalisasi tersebut terlihat di PLTU Sanggau, Kalimantan Barat. Pembangkit dengan teknologi stoker itu telah mampu memanfaatkan biomassa hingga sekitar 73 persen. Bahkan, substitusi batu bara berpotensi mencapai 100 persen apabila kualitas biomassa memenuhi persyaratan teknis.

Untuk mendukung target tersebut, PLN EPI terus meningkatkan kualitas bahan baku, terutama nilai kalor, kadar air, dan karakteristik material. Pengolahan menjadi produk seperti wood pellet dan wood chip juga dilakukan agar biomassa sesuai dengan kebutuhan pembangkit.

Realisasi pemanfaatan biomassa PLN menunjukkan peningkatan signifikan. Dari 9.728 ton pada 2020, volumenya naik menjadi 282.581 ton pada 2021, 585.663 ton pada 2022, 1,006 juta ton pada 2023, dan 1,624 juta ton pada 2024. Pada 2025, pemanfaatannya mencapai 2,352 juta ton.

Sementara itu, hingga 26 Oktober 2026, realisasi pemanfaatan biomassa tercatat sebesar 1,842 juta ton. Jenis biomassa yang dimanfaatkan secara berkelanjutan juga meningkat dari tiga jenis pada 2020 menjadi 18 jenis pada Oktober 2026.

PLN EPI telah mengidentifikasi sekitar 70 jenis biomassa yang pernah diuji atau dimanfaatkan. Di antaranya tongkol jagung, sekam padi, cangkang sawit, limbah kayu, serta berbagai residu pertanian dan perkebunan.

Meski potensinya besar, pengembangan industri biomassa nasional masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti persaingan pasar ekspor, keterbatasan fasilitas pengolahan, biaya logistik, dan belum terintegrasinya rantai pasok dari hulu hingga hilir.

Karena itu, Hokkop mengusulkan agar sekitar 30 persen dari potensi biomassa yang dapat dimanfaatkan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

“Kami tidak meminta seluruh produksi biomassa dialokasikan untuk PLN. Kami hanya meminta sekitar 30 persen untuk kebutuhan domestik. Dengan alokasi tersebut, pemanfaatan biomassa untuk PLN berpotensi mencapai sekitar 10 juta ton,” katanya.

Selain mendukung transisi energi, pengembangan biomassa juga berpotensi memberikan dampak ekonomi yang besar. Berdasarkan perhitungan PLN EPI, pemanfaatan biomassa sekitar 2,5 juta ton dapat menghasilkan perputaran ekonomi hampir Rp4 triliun per tahun. Jika meningkat menjadi 20 juta ton, nilai ekonomi yang terbentuk diperkirakan mencapai Rp11,7 triliun.

Pengembangan ekosistem biomassa juga diproyeksikan berpotensi menghasilkan penerimaan negara sebesar Rp1,25 triliun, menurunkan emisi hingga 12 juta ton CO₂ ekuivalen, serta menciptakan sekitar 150 ribu lapangan kerja hijau. Selain itu, hingga 20 juta ton limbah per tahun berpotensi diolah menjadi sumber energi bernilai ekonomi.

Saat ini, sekitar 210 perusahaan telah memiliki kontrak aktif sebagai pemasok biomassa PLN. Dengan asumsi setiap perusahaan mempekerjakan sekitar 100 orang, rantai pasok tersebut berpotensi menyerap hingga 21 ribu tenaga kerja.

Menariknya, sekitar 70–80 persen perusahaan mitra berasal dari kalangan pelaku usaha muda di daerah. Hal ini menunjukkan bahwa industri biomassa turut membuka peluang kewirausahaan, pengembangan industri pengolahan, dan pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal.

Untuk mempercepat pengembangan ekosistem biomassa, PLN EPI juga mendorong sinergi lintas kementerian. Dukungan yang dibutuhkan mencakup kebijakan harga biomassa yang kompetitif dari Kementerian ESDM, pengaturan tata niaga dan ekspor oleh Kementerian Perdagangan, pembiayaan dari Kementerian Keuangan, serta percepatan industrialisasi melalui Kementerian Perindustrian.

Di samping itu, dukungan Kementerian Perhubungan dalam memperkuat infrastruktur transportasi dan efisiensi logistik dinilai penting agar pasokan biomassa dari sentra produksi dapat disalurkan ke pembangkit secara ekonomis dan berkelanjutan.

Hokkop optimistis, kolaborasi pemerintah, industri, dan pelaku usaha dapat mempercepat pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi alternatif sekaligus memperkuat industri hijau nasional.

“Kalau seluruh kementerian dan pemangku kepentingan bisa bergerak bersama dalam melihat biomassa dan bioenergi, saya optimistis pemanfaatannya dapat meningkat sesuai kebutuhan, yakni mencapai sekitar 10 juta ton per tahun,” ujar Hokkop.(ZID)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *