FACEINDONESIA.CO.ID- Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) bersama PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkuat pengembangan ekosistem biomassa berbasis Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). Program ini bertujuan mendorong pemanfaatan potensi sumber daya lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.
Kolaborasi tersebut ditandai dengan peluncuran Program Pengembangan Ekosistem Biomassa Bersama BUMDesa di Desa Salira, Kabupaten Serang, Banten. Kegiatan ini juga ditandai pengiriman perdana serbuk gergaji (sawdust) hasil produksi BUMDesa menuju PLTU Suralaya yang dioperasikan PLN Indonesia Power.
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Yandri Susanto, mengatakan pengembangan biomassa menjadi langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi sumber daya desa agar memiliki nilai ekonomi.
Menurutnya, masyarakat desa harus terlibat aktif sebagai pelaku usaha dalam rantai pasok energi nasional melalui kerja sama dengan PLN EPI.
“Launching hari ini bukan hanya sekadar seremonial, tetapi benar-benar menjadi tonggak keseriusan kita. Ujungnya adalah bagaimana memastikan potensi apa pun yang ada di desa bisa kita maksimalkan,” ujar Yandri.
Ia menambahkan, program tersebut sejalan dengan Asta Cita keenam Presiden Prabowo Subianto, yakni membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi serta pengentasan kemiskinan.
Potensi biomassa yang dapat dimanfaatkan antara lain bonggol jagung, jerami, serbuk gergaji, sabut dan tempurung kelapa, hingga cangkang sawit. Berbagai bahan baku tersebut dapat dikumpulkan, diolah, dan dipasarkan melalui BUMDesa untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik PLN.
Yandri menilai program ini berpeluang dikembangkan di berbagai daerah. Di Kabupaten Serang, terdapat 326 desa yang dapat dipetakan potensi sumber daya lokalnya untuk mendukung rantai pasok biomassa.
Pada tahap awal, BUMDesa Bantarwaru di Kecamatan Cinangka dan BUMDesa Kadukempong di Kecamatan Padarincang turut menjadi bagian dari pengembangan ekosistem tersebut.
“Kalau ada kepastian penyerapan, akan ada kegiatan ekonomi. Ada yang bekerja, ada yang mendapatkan uang, ada juga kebersihan lingkungan. Efek dominonya banyak,” ungkapnya.
Sementara itu, Pelaksana Harian (Plh) Direktur Utama PLN EPI, Rakhmad Dewanto, menjelaskan pengembangan biomassa merupakan bagian dari strategi diversifikasi energi primer PLN Grup. Upaya ini dilakukan untuk menjaga keandalan pasokan listrik sekaligus mempercepat transisi menuju energi yang lebih bersih.
Pemanfaatan biomassa melalui teknologi cofiring memungkinkan sebagian penggunaan batu bara pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) digantikan dengan bahan baku dari sumber daya lokal.
Selain membantu mengurangi emisi karbon, program ini juga membuka kesempatan bagi masyarakat desa untuk terlibat dalam penyediaan energi primer melalui pengembangan ekonomi sirkular.
“Kalau batubara dan gas rata-rata berasal dari pemasok besar, biomassa ini merupakan pasokan yang melibatkan ekonomi sirkuler. Menurut kami, ini juga bagian dari ekonomi kerakyatan,” kata Rakhmad.
Ia mengungkapkan, sepanjang 2025 pasokan biomassa PLN Grup mencapai sekitar 2,4 juta ton melalui kolaborasi PLN EPI, PLN Indonesia Power, dan PLN Nusantara Power.
Pada 2026, pasokan biomassa diproyeksikan berada pada kisaran yang sama. Selanjutnya, PLN Grup menargetkan peningkatan pasokan menjadi tiga juta ton pada 2027.
Dalam jangka panjang, PLN EPI membidik pemanfaatan biomassa untuk program cofiring mencapai delapan juta hingga sepuluh juta ton di 51 titik pembangkit listrik di seluruh Indonesia.
Untuk mendukung target tersebut, PLN EPI terus memperluas kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk BUMDesa. Pengembangan rantai pasok dilakukan melalui model hub, sub-hub, serta pusat pengumpulan dan pengolahan biomassa.
BUMDesa nantinya dapat berperan sebagai agregator bahan baku dari masyarakat maupun pengelola fasilitas produksi biomassa sesuai spesifikasi kebutuhan pembangkit.
PLN EPI juga menyiapkan dukungan fasilitas produksi, seperti mesin pencacah dan pengering, guna meningkatkan kualitas biomassa, termasuk nilai kalor dan kadar air.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menambahkan kerja sama dengan Kemendes PDTT merupakan tindak lanjut nota kesepahaman antara Kemendes PDTT dan PT PLN (Persero) pada 28 April 2026.
Kesepakatan tersebut kemudian diperkuat melalui perjanjian kerja sama antara Direktorat Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa dan Daerah Tertinggal dengan PLN EPI pada 20 Agustus 2026.
Sebagai tahap implementasi, program pengembangan ekosistem biomassa ditargetkan melibatkan tiga BUMDesa pada 2026, meningkat menjadi enam BUMDesa pada 2027, dan sepuluh BUMDesa pada 2028.
Jumlah tersebut berpeluang terus bertambah seiring pemetaan potensi bahan baku, kesiapan kelembagaan BUMDesa, serta kebutuhan biomassa pembangkit di berbagai wilayah.
Melalui kolaborasi ini, pengembangan biomassa diharapkan tidak hanya mendukung transisi energi nasional, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi desa, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.(SAN)






