FACEINDONESIA.CO.ID- Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memperkuat ekosistem kewirausahaan di Sulawesi Selatan melalui Bursa Wirausaha Unggulan (BWU) Sulsel 2026 yang digelar di Baruga Andi Pangerang Pettarani, Universitas Hasanuddin, Makassar, Selasa (15/9).
Kegiatan bertema “Berani Memulai, Terus Bertumbuh, Siap Berdampak” tersebut menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga pembiayaan, inkubator bisnis, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan untuk mendorong pertumbuhan UMKM.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengatakan kewirausahaan memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian, terutama melalui penciptaan lapangan kerja dan pengurangan pengangguran.
Menurut Maman, rasio kewirausahaan Indonesia saat ini sekitar 3,2 persen. Pemerintah menargetkan angka tersebut meningkat menjadi 3,6 persen pada 2029 dan 8 persen pada 2045.
“Peningkatan rasio kewirausahaan perlu diiringi dengan lahirnya pengusaha yang kuat dan tangguh serta ekosistem kewirausahaan yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan,” ujar Maman.
Penguatan ekosistem kewirausahaan tersebut mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2026 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional. Regulasi ini menjadi landasan kolaborasi pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga pembiayaan, inkubator, komunitas, serta pemangku kepentingan lainnya.
BWU Sulsel 2026 melibatkan 31 lembaga mitra yang menyediakan berbagai layanan bagi wirausaha sesuai tahapan perkembangan bisnisnya. Dalam kegiatan tersebut juga digelar akad massal Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi 400 UMKM melalui BPD Sulselbar, Bank Mandiri, BRI, BSI, dan Pegadaian Syariah.
Secara nasional, realisasi KUR 2026 telah mencapai Rp221 triliun untuk 3,44 juta UMKM. Penyaluran ke sektor produksi mencapai 65,5 persen atau sekitar Rp145 triliun.
Khusus Sulawesi Selatan, penyaluran KUR tercatat Rp12,53 triliun kepada 189 ribu UMKM, dengan porsi sektor produksi mencapai 73 persen.
Maman menilai akses pembiayaan perlu diikuti pendampingan dan peningkatan kapasitas agar modal yang diperoleh UMKM dapat digunakan secara produktif.
Penyelenggaraan BWU di Universitas Hasanuddin juga memperkuat peran perguruan tinggi dalam ekosistem kewirausahaan. Kampus didorong tidak hanya menjadi pusat pembelajaran, tetapi juga penghubung antara riset, inovasi, talenta mahasiswa, teknologi, dan kebutuhan dunia usaha.
“Kami mendorong kampus sebagai pusat akademik untuk menghasilkan wirausaha hebat Tanah Air dengan meningkatkan kualitas dan kapasitas usaha,” kata Maman.
Sejumlah lembaga inkubator turut mendukung pengembangan wirausaha di Sulsel, antara lain Direktorat Hilirisasi, Komersialisasi, dan Science Techno Park Universitas Hasanuddin, Inkubator UMKM Kota Makassar, Kalla Institute, Universitas Muslim Indonesia (UMI), dan Inbistek UNDIPA Makassar.
Melalui BWU Sulsel 2026, Kementerian UMKM berupaya membangun ekosistem usaha dari hulu hingga hilir, mulai dari pembiayaan, pendampingan, peningkatan kapasitas, kemitraan, hingga akses pasar.
Salah satu peserta, CEO PT Kalosi Alam Lestari Ade Pratama, mengapresiasi kesempatan mengikuti business pitching dengan calon investor. Usahanya mengembangkan alternatif styrofoam berbahan limbah pertanian.
“Saya bersyukur UMKM rintisan seperti kami bisa dihadirkan sehingga bisa memperkenalkan produk ke investor untuk menambah value produk,” ujarnya.
Pendiri Zaini Hijab Makassar, A. Tiara Purnama Pertiwi, juga merasakan manfaat fasilitas KUR untuk menambah modal usaha hijab dan kain tenun.
“Lewat KUR ini, usaha saya semakin lancar dan modal bertambah sehingga produk kami bisa semakin dikenal di Sulawesi Selatan bahkan menembus pasar internasional,” kata Tiara.(SAN)






