FACEINDONESIA.CO.ID-Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama menyambut tahun baru 1 Muharam 1448 H dengan semangat pelestarian lingkungan. Beragam aksi iklim disiapkan, termasuk membagikan ratusan bibit tanaman untuk penghijauan.
Bibit tanaman ini dibagikan sebagai suvenir dalam Bimas Islam Talks: Peaceful Muharam 1448 H – Public Expose Kolaborasi Lembaga Filantropi Islam di Jakarta. Langkah ini merupakan bagian dari penguatan ekoteologi Kementerian Agama sekaligus upaya mendorong penyelenggaraan kegiatan yang lebih ramah lingkungan.
Sekretaris Ditjen Bimas Islam, Lubenah Amir mengatakan, penggunaan tanaman sebagai suvenir bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari upaya membangun kesadaran bersama bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana.
“Kami ingin setiap kegiatan tidak hanya meninggalkan pengetahuan dan gagasan, tetapi juga menghadirkan manfaat yang terus tumbuh. Karena itu, kami memilih tanaman sebagai suvenir yang dapat dirawat dan memberi nilai bagi lingkungan,” ujar Lubenah Amir, Kamis (11/6/2026).
Menurut Lubenah, pendekatan tersebut sejalan dengan semangat ekoteologi yang terus diperkuat Kementerian Agama. Nilai-nilai keagamaan tidak hanya diwujudkan dalam ibadah ritual, tetapi juga melalui kepedulian terhadap kelestarian alam sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.
Ia menjelaskan, penggunaan tanaman hidup juga menjadi ikhtiar mengurangi penggunaan barang sekali pakai dan kemasan yang berpotensi menjadi sampah setelah kegiatan berakhir. Dengan demikian, setiap agenda yang diselenggarakan diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan.
“Gerakan menjaga lingkungan tidak harus dimulai dari langkah besar. Hal-hal sederhana seperti mengurangi sampah kegiatan, memilih bahan yang ramah lingkungan, dan menanam tanaman dapat menjadi bagian dari budaya baru yang terus kita bangun,” katanya.
Lubenah menambahkan, semangat tersebut selaras dengan tema Peaceful Muharam 1448 H, yakni Menebar Maslahat, Menguatkan Umat. Menurutnya, kemaslahatan tidak hanya menyentuh aspek sosial dan kemanusiaan, tetapi juga mencakup kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan hidup.
Lebih lanjut, Lubenah mengatakan, komitmen tersebut juga sejalan dengan perhatian Menteri Agama Nasaruddin Umar yang terus mendorong penguatan ekoteologi sebagai bagian dari transformasi layanan keagamaan yang relevan dengan tantangan zaman. Karena itu, berbagai program dan kegiatan Kementerian Agama diarahkan agar semakin memperhatikan aspek keberlanjutan dan pelestarian lingkungan.
“Melalui langkah sederhana itu, kami berharap semakin banyak pihak yang terinspirasi untuk menerapkan prinsip kegiatan minim sampah dan ramah lingkungan. Dengan demikian, pesan keagamaan yang disampaikan tidak berhenti pada ruang diskusi, tetapi juga terwujud dalam tindakan nyata yang memberi manfaat bagi bumi dan generasi mendatang,” tandasnya.(HER)





