FACEINDONESIA.CO.ID – Anggota Komisi VI DPR RI Rachmat Gobel meminta pemerintah menggandeng para eksportir nasional untuk membantu memperkuat nilai tukar rupiah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Gobel, penguatan ekonomi membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, termasuk pelaku ekspor dan UMKM.
Pernyataan itu disampaikannya saat menanggapi langkah Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad yang aktif berkoordinasi dengan pemerintah guna mencari solusi atas pelemahan rupiah dan penurunan indeks saham.
Dalam berbagai pertemuan tersebut, pemerintah membahas sejumlah langkah strategis, antara lain pengelolaan ekspor komoditas sumber daya alam, peningkatan ekspor migas, serta upaya menarik investasi asing.
Gobel menilai perhatian pemerintah tidak boleh hanya terfokus pada sektor pertambangan. Sektor industri, manufaktur, dan pangan juga perlu diperkuat karena memiliki kontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja dan pemerataan ekonomi.
Ia mendorong pemerintah menekan biaya logistik, mempercepat digitalisasi layanan bea cukai, meningkatkan efisiensi kontainer, memperbaiki layanan pelabuhan, serta mempermudah akses transportasi menuju kawasan pelabuhan.
Selain itu, Gobel meminta pemerintah memperluas pasar ekspor melalui jaringan kedutaan besar Indonesia di berbagai negara. Diversifikasi pasar dinilai penting agar ekspor Indonesia tidak terlalu bergantung pada negara tujuan utama seperti Amerika Serikat dan China.
Sebagai langkah awal, Gobel mengusulkan pemerintah mengundang para eksportir nasional, termasuk pelaku UMKM, untuk menyusun strategi bersama dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Ia menyoroti masih rendahnya kontribusi UMKM terhadap ekspor. Padahal, sektor ini menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja dan berkontribusi sekitar 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sementara kontribusi ekspornya baru sekitar 15 persen.
Menurut Gobel, potensi ekspor UMKM sangat besar, mulai dari produk makanan, rempah-rempah, fesyen, furnitur, herbal, kerajinan, produk halal hingga ekonomi kreatif. Karena itu, pemerintah perlu memberikan dukungan berupa kredit ekspor, asuransi perdagangan, dan insentif pajak.
“Semakin tinggi ekspor, semakin besar pula devisa yang masuk sehingga dapat membantu memperkuat rupiah,” ujarnya.
Di sisi lain, Gobel mengingatkan pentingnya pengendalian impor, terutama untuk produk yang sudah dapat diproduksi di dalam negeri. Langkah tersebut dinilai dapat menjaga penggunaan devisa dan mendukung daya saing industri nasional.
Ia menegaskan pembangunan ekonomi Indonesia ke depan harus lebih bertumpu pada sektor industri, UMKM, dan pangan agar lebih berkelanjutan, merata, serta mampu menghadapi gejolak pasar global.(DEN)





