TUKULILING Resmi Diluncurkan, Strategi Baru Toko Kopi TUKU Hadir Fleksibel di Ruang Publik hingga Event Besar

Menjawab perubahan gaya berkumpul masyarakat yang kian dinamis, TUKU resmi memperkenalkan TUKULILING, identitas baru yang memungkinkan brand kopi lokal ini hadir lebih fleksibel, adaptif, dan eksploratif di berbagai momen kebersamaan.

FACEINDONESIA.CO.ID – Toko Kopi Tuku (TUKU) kembali membuat gebrakan. Menjawab perubahan gaya berkumpul masyarakat yang kian dinamis, TUKU resmi memperkenalkan TUKULILING, identitas baru yang memungkinkan brand kopi lokal ini hadir lebih fleksibel, adaptif, dan eksploratif di berbagai momen kebersamaan.
Tak lagi terbatas di dalam toko, TUKULILING menjadi strategi ekspansi ke ruang publik, perkantoran, hingga kolaborasi lintas sektor. Identitas ini diperkenalkan dalam forum diskusi Kumpul Tetangga TUKULILING yang digelar pekan lalu di Toho Cafe, sekaligus menjadi ruang dialog tentang perubahan ritme berkumpul masyarakat urban.

COO TUKU, Rully Gumilar, menegaskan bahwa kedekatan emosional menjadi alasan utama pelanggan terus memilih TUKU.

“Orang merasa dekat dengan TUKU karena mereka merasa jadi bagian dari cerita, bukan sekadar pembeli. Di 2026, fleksibilitas menjadi kunci. Bagaimana TUKU bisa mengikuti ritme kebutuhan Tetangga, di situlah TUKULILING mengambil peran,” ujar Rully.

Fleksibilitas tersebut diwujudkan melalui beragam format layanan, mulai dari pop-up store, coffee serving, Mobile Cafe Tukuliling Rangga, hingga format praktis seperti vending machine. Pendekatan ini lahir dari kebutuhan nyata di lapangan serta evolusi customer experience yang menuntut kehadiran lebih cepat, kontekstual, dan mudah diakses.

Dampaknya pun terasa. VP Commercial & Retail Division PT MRT Jakarta (Perseroda), Jacques Ricardo Daniel Soleman, mengungkapkan bahwa selama periode pop-up TUKULILING, jumlah pengunjung stasiun meningkat sekitar 3.000 orang per hari.

“Ruang publik bisa hidup ketika pengalaman yang dihadirkan relevan dengan kebutuhan orang untuk bertemu,” katanya.

Tak hanya di ruang publik, TUKULILING juga memberi dukungan signifikan dalam penyelenggaraan acara. CEO Swasana, Gunawarman, Pakubuwono Wedding Organizer, Citra Aurora Paramita, menilai format coffee serving TUKULILING membantu timnya tetap fokus pada jalannya acara.

“Menjelang hari-H, fokus penyelenggara seharusnya pada pengalaman tamu. Dukungan TUKULILING membantu kami mengelola kebutuhan teknis tanpa mengganggu alur utama,” jelasnya.

CEO & Founder TUKU, Andanu Prasetyo, menutup diskusi dengan menegaskan bahwa pertumbuhan bisnis adalah konsekuensi dari relevansi yang dijaga secara konsisten.

“Bisnis itu konsekuensi. Yang kami cari adalah bagaimana kebersamaan bisa terasa, dan dari situ nilai serta hubungan bisa tumbuh,” ungkapnya.

Melalui TUKULILING, TUKU tak sekadar memperluas jangkauan, tetapi juga memperkuat identitas sebagai brand kopi yang hangat dan relevan. Langkah ini menjadi fase baru perjalanan TUKU dalam merespons kebutuhan komunitas yang terus berkembang—membawa kopi, kedekatan, dan kebersamaan ke lebih banyak ruang dan momen. (San)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *