STEM Dekatkan Sains dengan Kehidupan Anak

FACEINDONESIA.CO.ID- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong pembelajaran Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM) agar semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari anak. Pendekatan tersebut dikembangkan melalui konsep 5M, yakni Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful.

Di lingkungan sekitar, anak dapat mengenal sains melalui berbagai hal sederhana, seperti katak di sawah, belalang di rerumputan, semut yang berjalan beriringan, hingga kupu-kupu yang beterbangan. Pembelajaran STEM tidak harus menggunakan laboratorium mahal atau peralatan berteknologi tinggi.

Bacaan Lainnya

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, perubahan pola pikir menjadi kunci agar pembelajaran sains dapat hadir lebih dekat dengan kehidupan anak.

“Bangun mindset menentukan bagaimana kita melakukan sesuatu sehingga mindset kita ubah dengan science itu mudah. Semua orang bisa menjadi saintis dan murah, tidak harus membeli peralatan lab yang mahal. Bisa dari keseharian, di mana anak-anak menemukan banyak hal di sekitarnya, dan belajar sains itu menggembirakan, mindful dan meaningful,” ujar Abdul Mu’ti.

Menurutnya, pengenalan sains perlu dilakukan sejak pendidikan anak usia dini (PAUD). Rasa ingin tahu anak harus diberikan ruang agar pembelajaran sains menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Anak juga dapat diajak mengamati lingkungan secara langsung, seperti rumput, padi, katak, belalang, semut, dan berbagai objek lain di sawah. Pengalaman tersebut membantu anak memahami bahwa sains merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Sains tidak boleh menjauhkan dari lingkungan alam di mana mereka berada karena alam adalah tempat belajar,” kata Abdul Mu’ti.

Ia juga menekankan pentingnya memberikan kesempatan kepada anak untuk mencipta dan bereksplorasi. Pengalaman langsung dinilai dapat memancing rasa ingin tahu anak dalam suasana pembelajaran yang menggembirakan.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Nunuk Suryani mengatakan, STEM selama ini masih kerap dianggap sebagai bidang yang mahal dan sulit diterapkan di sekolah. Karena itu, Kemendikdasmen merancang Program STEM secara menyeluruh, termasuk penguatan kompetensi guru melalui pelatihan berbasis prinsip 5M.

Melalui pendekatan tersebut, STEM diharapkan menjadi cara berpikir dalam keseharian murid, mulai dari mengamati persoalan, bertanya, mencari solusi, mencoba, mengevaluasi, hingga menciptakan sesuatu yang bermakna.

Guru memiliki peran penting sebagai penggerak agar pengalaman belajar STEM tumbuh secara alami, menyenangkan, dan sesuai dengan lingkungan anak.

“Peluncuran ini bukan sebagai awal kegiatan, tetapi menjadi sebuah katalis dalam praktik pedagogis yang menghubungkan konsep lintas disiplin dengan konteks nyata sekaligus memfasilitasi praktik saintifik, enjinering, komunikasi ilmiah, dan kolaborasi,” ujar Nunuk.

Guru RA Miftahul Falah Dawe, Fitri Anggraeni, menyambut positif peluncuran STEM Nasional. Ia mengaku baru menyadari bahwa sejumlah aktivitas pembelajaran yang selama ini dilakukan telah menerapkan konsep STEM.

Menurut Fitri, anak-anak lebih bersemangat ketika pembelajaran dilakukan melalui aktivitas bermain, seperti membuat bangun ruang menggunakan kardus dan belajar numerasi sambil bernyanyi.

Sementara itu, guru RA Miftahul Huda 1 Dawe, Syafa”atun Ni”mah, mengatakan penerapan STEM membuat pengalaman belajar menjadi lebih kaya. Interaksi dengan murid bahkan membuat dirinya mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru.

“Tak jarang saya takjub dengan reaksi dan umpan balik yang diberikan anak-anak. Sebab, sering kali justru saya belajar dari mereka,” ungkap Syafa`atun.

Kemendikdasmen berharap penerapan STEM dengan prinsip 5M dapat membuat pembelajaran sains lebih mudah, terjangkau, menyenangkan, serta memiliki makna bagi kehidupan anak.(ZID)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *