PGN-BRIN Ubah Lahan Salin Batang Jadi Sawah dan Kolam Ikan

Dok. PGN

FACEINDONESIA.CO.ID – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Pemerintah Kabupaten Batang meluncurkan Program Minapadi Salin di kawasan Pantai Sicepit, Kelurahan Kasepuhan, Kabupaten Batang. Program ini bertujuan mengoptimalkan lahan pesisir terdampak salinitas agar lebih produktif sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), PGN mengintegrasikan budidaya padi biosalin, ikan nila salin, dan rumput laut dalam satu ekosistem. Skema ini diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi lahan sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir.

Program Minapadi Salin merupakan pengembangan dari Program Padi Biosalin yang sebelumnya dijalankan di Mangunharjo, Semarang dan Kabupaten Jepara. Di Mangunharjo, luas lahan berkembang dari 20 hektare menjadi lebih dari 115 hektare. Sementara di Jepara, realisasi panen mencapai 22 hektare dengan nilai ekonomi sekitar Rp1,23 miliar.

Secara keseluruhan, Program Padi Biosalin telah mencatat nilai ekonomi hingga Rp7,66 miliar.
Peluncuran program di Batang dihadiri Bupati Batang M. Faiz Kurniawan, Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN Yopi, serta Deputi Bidang Sumber Daya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Pangan Dandy Satria Iswara.
Sebagai tanda dimulainya program, dilakukan penebaran 10.000 benih ikan nila salin serta penanaman benih padi biosalin bersama para petani.

Program ini dijalankan di lahan seluas 32,26 hektare yang dikelola Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sido Barokah Mulyo, Kelompok Tani Intani, dan Kelompok Tani Dewi Sri VI.

Selain padi dan ikan nila salin, masyarakat juga membudidayakan rumput laut jenis gracilaria verrucosa yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan mampu tumbuh di kawasan dengan kadar garam tinggi.

Pada tahap awal, sebanyak 30 kilogram bibit rumput laut ditebar. Panen perdana ditargetkan dalam tiga bulan dengan potensi hasil lima kilogram untuk setiap satu kilogram bibit. Setelah itu, panen bisa dilakukan bertahap setiap tiga hingga empat pekan.

Bupati Batang M. Faiz Kurniawan menyebut program ini sebagai langkah strategis untuk mengubah lahan salin yang sebelumnya kurang produktif menjadi kawasan pertanian dan perikanan bernilai ekonomi.
Ia mengapresiasi kolaborasi PGN, BRIN, dan berbagai pihak dalam menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat pesisir.

Sementara itu, BRIN menilai Program Minapadi Salin menjadi bukti hasil riset dapat diimplementasikan untuk menjawab tantangan pengelolaan lahan pesisir dengan kadar salinitas tinggi.

Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman mengatakan, sebagai Subholding Gas Pertamina, PGN tidak hanya fokus pada penyediaan energi, tetapi juga berkomitmen menciptakan nilai tambah melalui program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
Menurutnya, integrasi padi biosalin, ikan nila salin, dan rumput laut menjadi alternatif usaha baru yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Dengan dukungan teknologi pertanian hasil riset BRIN, program ini menargetkan produktivitas padi mencapai enam hingga tujuh ton per hektare. Sedangkan ikan nila salin diproyeksikan mencapai bobot rata-rata 300 gram per ekor saat panen.

Ke depan, program ini juga akan diperkuat melalui penanaman mangrove di sekitar kawasan budidaya untuk mengurangi abrasi pantai dan menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.(ZID)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *