FACEINDONESIA.CO.ID – Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan isu lingkungan kini menjadi bagian dari tantangan yang perlu dipahami penyuluh agama. Karena itu, 100 penyuluh agama lintas iman di Sumatera Selatan mendapat pembekalan terkait AI dan ekologi dalam Lokakarya Program Religious Literacy.
Acara yang mengangkat tema “Pengayaan Wacana Agama dan Keragaman” ini berlangsung di Aula Kanwil Kemenag Sumsel, 11–12 Juni 2026. Penguatan kemampuan penyuluh agama di bidang AI sejalan pandangan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang menyebut kecerdasan buatan sebagai teknologi bermata dua yang dapat membawa kemajuan besar sekaligus berpotensi menimbulkan dehumanisasi jika tidak dikelola secara bijak. Menurut Menag, pengembangan AI memerlukan bimbingan spiritual agar teknologi tersebut memberi manfaat bagi kemanusiaan.
“Program ini hadir sebagai kontribusi nyata untuk melengkapi penguatan Moderasi Beragama yang sedang digulirkan oleh Kementerian Agama. Penekanan pada substansi materi dan kelompok sasaran para penyuluh agama ini sangat strategis,” ujar Kepala Kanwil Kemenag Sumsel Syafitri Irwan saat membuka kegiatan, Kamis (11/6/2026).
Syafitri berharap pembekalan tersebut dapat memperluas wawasan para penyuluh dalam memahami umat agama lain sehingga mampu menjadi penggerak toleransi dan sikap saling menghargai di tengah masyarakat. “Dengan begitu, mereka dapat menjadi motor penggerak dalam merawat serta menyebarkan sikap toleransi dan saling menghargai di tengah masyarakat Sumatera Selatan,” katanya.
Lokakarya yang merupakan hasil kolaborasi Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) dan Kanwil Kemenag Sumsel itu diikuti penyuluh agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Selama dua hari, peserta mendapatkan enam materi utama, yakni Agama dan Negara, Agama dan Martabat Kemanusiaan, Agama dan Bina Damai, Agama dan Hak Asasi Manusia, Agama dan Ekologi, serta Agama dan AI.
Principal Investigator Program Religious Literacy ICRS Leonard Chrysostomos Epafras mengatakan program tersebut mengusung tagline “Rukun, Ragam, Sepadan” untuk memperkuat peran penyuluh agama dalam memperluas kesadaran tentang keragaman, toleransi, dan keadilan sosial. “Sejak tahun 2017, kami telah melatih lebih dari 1.500 penyuluh agama dari 12 kabupaten/kota. Ruang ini menjadi sangat strategis karena mendorong para penyuluh antariman untuk saling berjumpa dan berlatih bersama,” terang Leonard.
Program Religious Literacy merupakan bagian dari keberlanjutan fase kedua yang telah menjangkau sejumlah provinsi di Indonesia. Empat materi awal merupakan hasil kolaborasi ICRS dengan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kemenag RI, sedangkan materi Agama dan Ekologi serta Agama dan AI menjadi pengembangan baru pada fase kedua program tersebut. (DEN)





