FACEINDONESIA.CO.ID – Holding Industri Pertambangan Indonesia (MIND ID) terus memperkuat praktik pertambangan berkelanjutan melalui pengurangan limbah dan pemanfaatan kembali material sisa produksi sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Division Head of Sustainability MIND ID, Binahidra Logiardi mengatakan, meningkatnya kebutuhan mineral strategis untuk mendukung pembangunan masa depan perlu diimbangi dengan pengelolaan limbah yang bertanggung jawab.
Menurutnya, permintaan terhadap mineral seperti aluminium, bauksit, nikel, tembaga, dan timah terus meningkat seiring perkembangan elektrifikasi, industri baterai, kendaraan listrik, hingga perluasan jaringan energi.
Karena itu, MIND ID menjalankan Sustainability Pathway dengan fokus pada minimisasi limbah melalui efisiensi operasional serta pemanfaatan kembali material hasil kegiatan pertambangan.
MIND ID mencatat volume limbah padat bahan berbahaya dan beracun (B3) turun 38 persen dalam dua tahun terakhir, dari 351 kiloton pada 2023 menjadi 279 kiloton pada 2024, lalu kembali turun menjadi 217 kiloton pada 2025.
Pada periode yang sama, limbah padat non-B3 juga menurun dari 1.082 kiloton menjadi 956 kiloton.
Binahidra menjelaskan, penurunan tersebut didorong oleh peningkatan efisiensi operasional yang membuat produksi limbah semakin terkendali.
Limbah yang dihasilkan Grup MIND ID dikelola secara mandiri maupun bersama mitra berizin, lalu dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan operasional dan pembangunan infrastruktur di sekitar wilayah tambang.
Salah satu implementasi dilakukan PT Aneka Tambang (Antam) melalui Unit Bisnis Pertambangan Nikel Kolaka dengan mengolah slag feronikel menjadi batako dan paving block. Program ini menghasilkan produk konstruksi bernilai tambah dengan kapasitas sekitar 5.000 ton per tahun.
Sementara itu, PT Freeport Indonesia memanfaatkan tailing sebagai material agregat campuran paste backfill untuk mendukung operasi tambang bawah tanah dengan kapasitas sekitar 1.500 kiloton per tahun.
Adapun PT Vale Indonesia Tbk memanfaatkan slag nikel untuk pembangunan jalan, infrastruktur tambang, dan stabilisasi lahan dengan volume pemanfaatan mencapai 5.300 kiloton per tahun.
Binahidra menegaskan, pengelolaan limbah kini tidak hanya menjadi bentuk kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga strategi perusahaan dalam menciptakan nilai tambah sekaligus mengelola risiko jangka panjang.
“Sustainability Pathway menjadi instrumen untuk mengelola dampak, memitigasi risiko, dan menciptakan manfaat bagi perusahaan, lingkungan, serta masyarakat,” ujarnya. (ZID)






