FACEINDONESIA.CO.ID-PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) mencatatkan kinerja positif sepanjang Semester I 2026 dengan membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp294,85 miliar, naik 6,81 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp276,05 miliar.
Capaian tersebut memperpanjang tren profitabilitas BNC selama dua tahun terakhir. Di tengah tantangan ekonomi global dan industri keuangan, perseroan tetap mengedepankan strategi pertumbuhan yang selektif, efisien, dan berorientasi pada kualitas.
Direktur Utama BNC, Eri Budiono, mengatakan hasil tersebut mencerminkan keberhasilan strategi perusahaan dalam memperkuat fundamental bisnis, meningkatkan efisiensi operasional, serta menerapkan pengelolaan risiko yang lebih disiplin.
“Kami percaya fondasi yang kuat menjadi kunci untuk menciptakan pertumbuhan berkelanjutan dan memperkuat posisi BNC sebagai bank digital yang tepercaya,” ujarnya.
Hingga akhir Juni 2026, total aset BNC mencapai Rp17,45 triliun, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat Rp12,30 triliun. Dana tabungan juga meningkat menjadi Rp3,39 triliun atau tumbuh 2,10 persen secara tahunan.
Dari sisi pendapatan, Net Interest Income (NII) mencapai Rp1,11 triliun, sedangkan Fee Based Income naik 6,77 persen menjadi Rp59,66 miliar, menunjukkan kontribusi pendapatan nonbunga yang terus meningkat.
Layanan digital BNC juga mencatat pertumbuhan signifikan. Jumlah transaksi QRIS melonjak 124 persen menjadi 267,4 juta transaksi, sementara pendapatan dari QRIS meningkat 246 persen menjadi Rp25,8 miliar.
Efisiensi operasional ikut membaik, tercermin dari rasio BOPO yang turun menjadi 82,31 persen dan ROA yang meningkat menjadi 3,23 persen.
Di sisi kualitas aset, rasio NPL Gross turun menjadi 2,99 persen, menandakan perbaikan kualitas kredit.
Permodalan BNC juga semakin kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 50,23 persen, naik dari 41,27 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Modal inti perseroan turut meningkat menjadi Rp4,20 triliun.
Dalam penyaluran kredit, BNC lebih selektif dengan fokus pada segmen konsumer dan UMKM, yang tumbuh 6,68 persen menjadi Rp5,80 triliun, meski total kredit turun sebagai bagian dari optimalisasi portofolio.
Memasuki fase pertumbuhan berikutnya, BNC mengusung strategi “Building the Next Phase of Growth: Strengthening Performance, Technology, and Trust”.
Perseroan akan memperkuat kinerja, mengembangkan teknologi termasuk pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), serta meningkatkan kepercayaan nasabah melalui tata kelola yang baik dan layanan digital yang semakin andal.
BNC optimistis strategi tersebut akan memperkuat daya saing sekaligus mendorong pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan.(ZID)






