Lumbung Coin dan ICAN kembangkan rukos berkonsep “living and learning”

Pre-launching pembangunan rukos yang lokasinya berdekatan dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim III, Junrejo, Kota Batu Malang.

FACEINDONESIA.CO.ID – Perusahaan properti Lumbung Coin Eco-resort dan Indonesia Construction Architecture Network (ICAN) berkolaborasi dalam pengembangan kawasan rumah kos (rukos) yang memadukan konsep hunian (living)) dengan pembelajaran (learning) bagi penghuninya.

Kedua institusi pada Minggu (12/4) melakukan pre-launching pembangunan rukos yang lokasinya berdekatan dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim III, Junrejo, Kota Batu Malang. Sebelumnya pada Sabtu (11/4) ICAN juga menggelar “Architecture Product Workshop” yang dihadiri Ikatan Arsitektur Indonesia Jawa Timur Wilayah Malang di Hotel Alana, Malang. ICAN berpengalaman menyelenggarakan workshop online dan offline yang total sejak 2017 telah 10 ribu peserta yang terdiri atas pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) dan arsitektur.

“Nantinya kami membangun bootcamp di Lumbung Coin untuk menciptakan talenta-talenta di bidang digital yang siap bersaing di ekosistem digital lokal maupun global,” kata Direktur Utama Lumbung Coin Eco-resort, Rosantika dalam keterangannya, Senin.

Dia juga optimistis lewat bootcamp bisa melahirkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas di bidang digital sehingga pada akhirnya dapat berkontribusi terhadap program pemerintah menciptakan 19 juta lapangan kerja baru.

Kawasan ini dirancang sebagai ekosistem transformatif yang menyatukan hunian komunal modern dengan pusat pelatihan praktis berbasis industri untuk mencetak talenta unggul di era ekonomi digital.

Lumbung Coin Eco-resort dibangun diatas ketinggian 800 mdpl, dengan udara segar memberikan keuntungan psikologis yang besar. Lingkungan yang jauh dari hiruk-pikuk kawasan padat industri komersial, menjadikan keseimbangan sempurna antara living dan learning. Kawasan ini diharap dapat memecahkan batas ruang kelas dan ruang sosialisasi. Ide-ide brilian (startup) tidak hanya lahir dimeja pelatihan, tetapi juga saat ngopi santai disore hari.

Guna mewujudkan Living and Learning tersebut, Lumbung Coin juga menggandeng VOCASIA penyedia platform pembelajaran digital (e-learning) yang baru-baru ini berkolaborasi dengan Perkumpulan Bank Syariah Indonesia (ASBISINDO) di bidang sertifikasi manajemen risiko.

Direktur Utama Lumbung Coin Eco-resort, Rosantika berharap dengan mengombinasikan hunian dengan pembelajaran dapat mencetak freelance digital yang pada akhirnya membuat penghuni akan tertantang untuk memilik income sendiri dengan keahlian digital yang dimilikinya bahkan sebelum menyelesaikan kuliahnya sudah bisa mandiri dan menciptakan peluang kerja bagi orang lain.

Dia menjelaskan unit yang dibangun di dalam kawasan hanya terbatas 67 unit rumah yang masing-masing terdiri atas 12 kamar. Dengan konsep muslim “friendly” maka hunian kos di dalamnya bakal dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Tak hanya itu juga disediakan unit kos untuk keluarga. Serta satu tempat ibadah yang dapat dipakai bersama.

Kemudian, samahalnya dengan tempat kos lainnya, Lumbung Coin juga melengkapi dengan mini market, area olahraga, dan kolam renang untuk mendukung kebutuhan penghuni.

Sedangkan Chairman ICAN, Dian Putra memastikan dengan kehadiran bootcamp di dalam lingkungan kos bisa menjadi benefit bagi mahasiswa atau masyarakat. Harapannya tidak sekedar kuliah, tetapi bisa ikut menciptakan peluang bisnis dengan talenta yang dimilikinya.

Dian menjelaskan di kawasan living and learning juga harus memiliki area kerja bersama (co working space) dan juga ampiteater yang membuat penghuni lebih mudah merealisasikan ide-ide bisnisnya dengan nyaman dan aman.

Sesuai dengan konsep hijau (eco) maka di dalam kawasan juga harus disediakan kendaraaan ramah lingkungan untuk memudahkan mobilitas penghuni yang membuat kawasan di dalamnya terjaga keasrian dan aktivitas penghuni tidak terganggu dengan suara bising knalpot kendaraan. Mendukung konsep tersebut harus juga dibangun areal parkir khusus bagi kendaraan yang masih menggunakan bahan bakar fosil, tujuannya agar pemilik kendaraan bisa berganti dengan kendaraan ramah lingkungan untuk masuk ke dalam kawasan.

Lebih jauh Chairman VOCASIA, Farid Subkhan menyatakan kesiapannya membangun selter untuk menciptakan digitalpreneur asumsinya semakin banyak perguruan tinggi tentunya jumlah pasokan sumber daya manusia (SDM) juga semakin tinggi. Artinya jumlah angkatan kerja semakin bertambah yang tentunya harus dibarengi dengan ketersediaan lapangan pekerjaan.

“Lewat pelatihan digitalpreneur kita ingin memberikan opsi karir bagi lulusan perguruan tinggi dan juga masyarakat umum. Sebagai lembaga pendidikan kami dari VOCASIA menyediakan wadah pembelajaran (platform), materi (konten), dan pengajar. Sedangkan Lumbung Coin menyediakan tempat. Hal ini karena di tengah pembelajaran online, kita juga harus offline untuk pemateri dari kalangan praktisi untuk menularkan kisah suksesnya,” ucap Farid.

Programnya, jelas Farid, ada beberapa paket yang bisa diambil untuk jangka waktu satu minggu, satu bulan, bahkan ada yang enam bulan. Tergantung materi apa yang ingin diambil.

Mengintip materi yang akan diberikan, Farid menjelaskan pelatihan yang diberikan adalah bagaimana memanfaatkan perangkat (tools) digital yang sekarang menjadi tren dapat dimonetisasi untuk mendatangkan income. “Banyak caranya bisa dengan memanfaatkan aplikasi Canva untuk tujuan marketing, dan banyak lainnya,” tutur Farid.

Materi yang diberikan, jelas Farid, mulai dari strategi marketing, financing, manajemen sumber daya, analisa dengan memanfaatkan piranti lunak (software) tertentu, praktikum (doing bisnis), memanfaatkan platform digital yang ada, manajemen stok, perpajakan, dan sebagainya.

“Kami juga punya modul yang dalam waktu satu minggu, peserta sudah bisa langsung praktik bisnis digital, bahkan bisa langsung mendapatkan penghasilan,” ujar Farid.

Menurut Farid di dalam bisnis digital, pelaku bukan seperi salesman yang paling penting harus jualan produk. Pelaku di bisnis digital kinerjanya diukur dari berapa besar bisnisnya bertumbuh, sebagai tahap awalnya tentunya kecil dulu targetnya untuk kemudian dilakukan evaluasi agar bisnisnya dapat terus bertumbuh.

“Sukses dalam menalankan bisnis digital tidak perlu modal besar, cukup berbekal ponsel pintar atau komputer jinjing (laptop) dan internet tentunya. Kemudian yang paling penting harus ada kemauan dan keahlian maka bisnis bisa mengalir,” urai Farid.

Farid menjelaskan bootcamp sifatnya untuk melengkapi materi pengetahuan yang selama ini sudah didapat di perguruan tinggi. Praktikum bisnis yang diikuti terkadang belum cukup, masih banyak hal-hal yang harus dihadapi pelaku bisnis mulai dari attitude apabila menghadapi permasalahan, profiling pelanggan, dampak sosial, pemanfaatan SEO (Search Engine Optimization) dan SEM (Search Engine Marketing), serta masih banyak lainnya.

Farid juga bakal menyiapkan materi pembelajaran untuk menggarap potensi bisnis digital yang dapat dikembangkan untuk pasar luar negeri. (Wis)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *