FACEINDONESIA.CO.ID – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Bank Indonesia (BI) memastikan akan meningkatkan intensitas intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Pada perdagangan tengah hari, rupiah berada di level Rp18.043 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,42 persen dibanding penutupan sehari sebelumnya yang tercatat Rp17.967 per dolar AS. Bahkan pada perdagangan intraday, rupiah sempat menyentuh Rp18.047 per dolar AS.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan pelemahan rupiah masih dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menghambat prospek perdamaian. Kondisi tersebut membuat harga minyak dunia tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus modal keluar dari negara berkembang.
Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari kebutuhan valas domestik yang masih tinggi, terutama untuk repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri.
Untuk menjaga stabilitas pasar keuangan, BI akan terus hadir melalui berbagai instrumen intervensi. Langkah tersebut dilakukan agar mekanisme pasar tetap berjalan baik dan nilai tukar rupiah bergerak sesuai fundamental ekonomi nasional.
Intervensi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang lebih menarik bagi investor guna mendorong aliran modal masuk ke aset domestik. Di saat yang sama, koordinasi dan komunikasi dengan pelaku pasar serta korporasi terus ditingkatkan.
Sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, BI terus mendorong penggunaan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Kerja sama tersebut telah dijalankan bersama China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Volume transaksi perdagangan menggunakan skema LCT terus meningkat. Hingga April 2026, nilainya mencapai sekitar 22,7 miliar dolar AS, mendekati capaian sepanjang tahun 2025 yang sebesar 25,7 miliar dolar AS.
Destry menegaskan pelemahan rupiah masih sejalan dengan mata uang negara-negara di kawasan. Secara year to date, rupiah tercatat melemah 7,44 persen. Meski demikian, posisi cadangan devisa Indonesia tetap kuat di level 147,2 miliar dolar AS pada akhir April 2026.
“Cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang aman untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung kebutuhan pembiayaan eksternal,” ujar Destry.( DEN)





