FACEINDONESIA.CO.ID- PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI bersiap mengembangkan hunian terjangkau di pusat Kota Jakarta melalui kawasan berorientasi transit atau Transit-Oriented Development (TOD) Manggarai.
Tahap awal pengembangan akan dilakukan di Blok F dan Blok G dengan total lahan sekitar 2,19 hektare. Kawasan ini direncanakan memiliki 3.740 unit hunian dan 150 unit retail. Sebanyak 1.232 unit di antaranya diperuntukkan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dan Masyarakat Berpenghasilan Menengah (MBM).
Groundbreaking dijadwalkan pada 21 Agustus 2026. Ketua Satuan Tugas Perumahan Hashim Djojohadikusumo dijadwalkan hadir dalam kegiatan tersebut.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan, pengembangan TOD Manggarai menjadi bagian dari upaya KAI memperluas peran transportasi publik dalam membentuk kawasan perkotaan yang terintegrasi.
“Kota akan bekerja lebih baik ketika masyarakat dapat tinggal lebih dekat dengan transportasi publik dan pusat aktivitasnya. Manggarai memberi kesempatan kepada KAI untuk membangun kawasan dengan pendekatan itu,” ujar Bobby.
Stasiun Manggarai memiliki basis mobilitas yang tinggi. Saat ini, stasiun tersebut melayani sekitar 162 ribu pergerakan pelanggan setiap hari dengan sekitar 700–750 perjalanan kereta api per hari.
Data KAI mencatat pelanggan KRL yang melakukan gate in di Stasiun Manggarai mencapai 5.142.739 pelanggan pada 2023, naik menjadi 5.575.711 pelanggan pada 2024 dan 5.456.309 pelanggan pada 2025. Sementara pada Januari–Juni 2026, jumlahnya mencapai 2.716.932 pelanggan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan, Blok G memiliki luas sekitar 6.925 meter persegi dan Blok F sekitar 15.014 meter persegi. Di kedua area tersebut akan dibangun 308 unit hunian MBR, 924 unit MBM, 2.508 unit hunian komersial, serta 150 unit retail.
Hunian akan tersedia dalam sejumlah tipe, mulai dari studio 28 meter persegi, tipe 36 dengan dua kamar tidur, hingga tipe 45 dengan dua kamar tidur dan ruang keluarga yang lebih luas.
“Komposisi hunian di Blok F dan G dirancang agar berbagai kelompok masyarakat dapat berada dalam satu kawasan yang dekat dengan transportasi publik,” kata Anne.
Secara keseluruhan, pengembangan TOD Manggarai mencakup area sekitar 129 hektare, dengan sekitar 64 hektare merupakan lahan KAI. Pengembangan dilakukan bertahap dan mencakup konektivitas pejalan kaki, elevated pedestrian deck, fasilitas integrasi transportasi, ruang publik, area hijau, hunian vertikal, serta area komersial.
Kawasan tersebut juga disiapkan terhubung dengan KRL Commuter Line, Commuter Line Bandara, TransJakarta, Terminal Manggarai, serta rencana LRT Jakarta.
KAI saat ini berkoordinasi dalam penyusunan Master Plan dan Panduan Rancang Kota (PRK) sebagai bagian dari proses pengembangan Kawasan Berorientasi Transit Manggarai. Tahapannya meliputi penyusunan dokumen perencanaan, pengajuan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, hingga proses penetapan sesuai ketentuan tata ruang.
“Blok F dan G menjadi titik awal karena lokasinya dekat dengan Stasiun Manggarai dan berada pada lahan KAI. Setelah tahap awal berjalan, pengembangan kawasan akan dilanjutkan secara bertahap,” tutup Anne.(ZID)






