FACEINDONESIA.CO.ID- Kereta Api (KA) Mutiara Timur semakin diminati masyarakat untuk perjalanan dari Surabaya menuju Banyuwangi, Jawa Timur, hingga akses penyeberangan ke Bali. Sepanjang Januari–September 2026, kereta ini melayani 304.522 pelanggan, tumbuh 22,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebanyak 248.021 pelanggan.
Pertumbuhan tersebut sejalan dengan tingginya mobilitas wisatawan menuju Banyuwangi. Data BPS Provinsi Jawa Timur mencatat sebanyak 1.846.509 perjalanan wisatawan nusantara menuju Kabupaten Banyuwangi selama Januari–April 2026.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, KA Mutiara Timur memiliki peran penting dalam menghubungkan Surabaya dengan sejumlah kota di wilayah timur Jawa serta berbagai destinasi wisata di Banyuwangi.
“KA Mutiara Timur memberi pelanggan banyak pilihan perjalanan. Dari Surabaya, pelanggan dapat menjangkau kota-kota di timur Jawa, menikmati Banyuwangi, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Bali melalui Ketapang,” ujar Anne dalam keterangan tertulis, Minggu (4/10/2026).
KA Mutiara Timur melayani rute pulang pergi Surabaya–Ketapang dengan pilihan kelas Eksekutif dan Ekonomi. Pada perjalanan tertentu, tersedia pula Kereta Panoramic yang menawarkan pengalaman menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dengan bidang pandang lebih luas.
Daya tarik wisata Banyuwangi juga terlihat selama periode liburan. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mencatat 240.632 wisatawan domestik dan mancanegara berkunjung pada libur Lebaran, 18–29 Maret 2026. Sementara itu, selama libur panjang 27 Mei–1 Juni 2026, jumlah kunjungan mencapai 90.968 wisatawan, terdiri atas 89.870 wisatawan domestik dan 1.098 wisatawan mancanegara.
Konektivitas perjalanan berlanjut hingga Stasiun Ketapang yang berdekatan dengan Pelabuhan Ketapang. Sepanjang Januari–September 2026, stasiun tersebut mencatat 615.161 pergerakan pelanggan naik dan turun, meningkat 8,56 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 566.643 pergerakan.
Dari total tersebut, sebanyak 292.618 pelanggan tercatat berangkat dan 322.543 pelanggan tiba di Stasiun Ketapang.
Pelanggan kemudian dapat melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Ketapang untuk menyeberang menggunakan kapal feri ke Gilimanuk, Bali. Tingginya mobilitas di jalur tersebut terlihat pada 31 Mei 2026, ketika ASDP mencatat lintasan Ketapang–Gilimanuk melayani 29.075 penumpang dan 9.092 kendaraan dalam satu hari selama arus balik libur panjang.
Integrasi kereta api dan penyeberangan ini memberikan pilihan perjalanan yang lebih luas bagi masyarakat. Selain memudahkan akses menuju destinasi wisata, konektivitas tersebut turut mendukung aktivitas transportasi lokal, akomodasi, kuliner, perdagangan, dan perekonomian daerah.
Anne menegaskan, konektivitas antarmoda menjadi bagian penting dalam meningkatkan kemudahan perjalanan masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan pariwisata.
“Perjalanan pelanggan dapat berlanjut jauh setelah turun dari kereta api. Ketika stasiun terhubung dengan pelabuhan dan berbagai destinasi, konektivitas menjadi semakin lengkap. Kami ingin perjalanan dengan kereta api ikut membuka lebih banyak akses bagi masyarakat untuk berwisata, bertemu keluarga, maupun menggerakkan aktivitas ekonomi di daerah,” tutup Anne.(ZID)






