Halabihalal Forsipur, Upaya Menjaga Nafas Inovasi Pendidikan Islam melalui Silaturahim

Dok.Kemenag

FACEINDONESIA.CO.ID – Aula Pusbangkom MKMB Kementerian Agama, Sabtu (11/4/2026),  menjadi ruang pertemuan antara sejarah masa lalu dan tanggung jawab masa depan. Pertemuan yang tidak sekadar tradisi tahunan Halalbihalal itu digelar Forum Silaturahmi Purnabakti Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Forsipur Pendis).

Hadir, sejumlah mantan pejabat Ditjen Pendidikan Islam (dulu Bimbaga Islam), antara lain: Prof. Husni Ramin, Prof. Atho’ Mudzhar, Prof. Mundzir Suparta, Wahyu Widiana, Amin Haedari, Masyhuri AM, Chamdi Pamudji, Syafrizal, Mubarok, Irhas Shobirin, Unang Rahmat, Ihsan Fami, dan Agus Sholeh. Hadir juga, sejumlah pejabat Kemenag yang masih aktif, antara lain: Adib Abdul Somad, Abdullah Hanif, Sola Taufik. Tampak juga Ketua Perhimpunan Pensiunan Pegawai Kementerian Agama (PPPKA) yaitu M. Khorizi.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amin Suyitno, mengatakan, kehadiran para tokoh senior bukan sekadar nostalgia. Ia memandang purnabakti sebagai kompas moral bagi para pejabat yang masih aktif menjalankan roda organisasi.

 

Bimbing Kami Agar Tetap On The Track

Amin Suyitno menegaskan bahwa keberlanjutan institusi sebesar Ditjen Pendis tidak lepas dari fondasi inovasi yang diletakkan para pendahulu. Ia menyebut nama-nama seperti Prof. Husni Rahim, Prof. Atho’ Mudzhar, dan Prof. Mundzir Suparta sebagai arsitek yang membawa institusi ini bertransformasi dari era Binbaga Islam hingga menjadi besar seperti sekarang.

“Bapak dan Ibu sudah selesai dengan tugas formal, namun kami yang masih aktif belum selesai. Kami memohon teguran, saran, dan bimbingan agar langkah kami tetap berada pada jalur yang benar (on the track),” ujar Suyitno.

Ia menekankan bahwa institusi memiliki kewajiban moral untuk mendukung eksistensi Forsipur. Bukan semata sebagai bentuk balas budi, melainkan upaya menjaga ekosistem sosial yang sehat bagi mereka yang telah mendermakan usianya untuk negara.

 

Menjaga Vitalitas di Masa Purna

Senada dengan hal tersebut, Ketua Dewan Pembina Forsipur, Prof. Husni Rahim, memberikan perspektif mengenai makna “rumah bersama” di masa pensiun. Mengangkat tema “Sak Lawase Tetep Seduluran” (Selamanya Tetap Bersaudara), ia mengingatkan pentingnya menjaga aktivitas intelektual dan spiritual agar kualitas hidup tetap terjaga.

“Setelah pensiun, jangan sampai kita diam. Lidah, mata, telinga, dan otak harus terus aktif bergerak, salah satunya dengan memperbanyak baca Al-Qur’an dan berinteraksi sosial. Di Forsipur, tidak ada lagi sekat jabatan; semua merasa akrab dan nyaman,” ungkap Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah tersebut.

 

Warisan Pemikiran dalam Literasi

Pertemuan ini ditutup dengan simbolisasi estafet pemikiran yang nyata. Prof. Husni Rahim menyerahkan empat karya bukunya kepada Dirjen Pendis, di antaranya Guru Panggilan Hati dan Guru Pembelajar. Pemberian ini menegaskan pesan utama acara: bahwa pengabdian seorang pendidik dan birokrat tidak pernah benar-benar berakhir saat SK pensiun tiba, melainkan berlanjut melalui literasi dan bimbingan bagi generasi penerus.

Acara ini turut dihadiri oleh deretan tokoh purnabakti serta pejabat aktif Ditjen Pendis, mempertegas komitmen bahwa transformasi pendidikan Islam adalah kerja kolektif lintas generasi yang tak boleh putus. (San)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *