Freeport-KLH Tanam 5 Juta Mangrove Perkuat Pesisir NTB

Dok. Freeport

FACEINDONESIA.CO.ID – PT Freeport Indonesia (PTFI) bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memperkuat upaya pelestarian lingkungan melalui program penanaman mangrove di Desa Labuhan Alas, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kegiatan yang dihadiri Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendali Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat, Presiden Direktur PTFI Tony Wenas, Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal, serta masyarakat setempat ini menandai rampungnya penanaman 1,5 juta bibit mangrove di lahan seluas 484 hektare di NTB.

Bacaan Lainnya

Jumhur mengatakan rehabilitasi mangrove merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya, program ini sejalan dengan target pemerintah menanam 2 miliar pohon sebagai upaya menghadapi perubahan iklim.

“PTFI telah merehabilitasi hampir 500 hektare mangrove di NTB dan menargetkan rehabilitasi hingga 12.000 hektare di berbagai wilayah Indonesia, terutama Papua,” ujar Jumhur.

Ia menegaskan mangrove berperan penting melindungi kawasan pesisir, menyerap emisi karbon, menjaga keanekaragaman hayati, sekaligus menopang ekonomi masyarakat pesisir. Karena itu, sinergi pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat perlu terus diperkuat.

Presiden Direktur PTFI Tony Wenas menjelaskan, area penanaman mangrove di NTB mencakup 445 hektare di Kabupaten Sumbawa dan 39 hektare di Lombok Timur. Penanaman dilakukan sepanjang 2025-2026 dengan total 1,5 juta bibit.

Program tersebut merupakan tindak lanjut kerja sama PTFI dengan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) serta pemerintah yang dimulai pada 2023 untuk mendukung rehabilitasi mangrove nasional di luar wilayah operasional perusahaan.

Hingga kini, PTFI telah merehabilitasi sekitar 666 hektare di delapan provinsi di luar Papua dengan sekitar 2 juta bibit mangrove. Sementara di Kabupaten Mimika, Papua, perusahaan telah menanam sekitar 5,5 juta bibit mangrove di area lebih dari 2.184 hektare.

Tony menambahkan, program di NTB melibatkan sekitar 1.500 warga lokal mulai dari pembibitan, penanaman hingga pemeliharaan. Selain mempercepat pemulihan ekosistem pesisir, kegiatan ini juga membuka peluang ekonomi sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan.

Anggota Komunitas Mangrove Sumbawa, Muhammad Tisnaini, mengaku program tersebut membawa manfaat nyata bagi masyarakat pesisir. Selain memperkuat kemampuan kelompok masyarakat memproduksi bibit secara mandiri, keberadaan mangrove juga meningkatkan hasil tangkapan nelayan karena menjadi habitat berbagai jenis ikan.

PTFI berharap kolaborasi penanaman mangrove terus berlanjut untuk memperkuat ketahanan pesisir, menjaga keanekaragaman hayati, serta memberikan manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi yang berkelanjutan.(ZID)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *