FACEINDONESIA.CO.ID- Peran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dalam tata kelola komoditas strategis menjadi perhatian sejumlah pemangku kepentingan. DSI dinilai dapat lebih diarahkan pada penguatan integrasi data dan pengawasan berbasis analisis risiko, dibanding menjadi pembeli tunggal atau offtaker.
Indonesia merupakan pemasok utama sejumlah komoditas strategis, seperti minyak sawit mentah (CPO), batu bara, dan ferro alloy. Ketiga komoditas tersebut menyumbang sekitar 25,2 persen dari total ekspor Indonesia pada 2025, dengan nilai mencapai 71,1 miliar dolar AS.
Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, mengatakan peran DSI sebagai offtaker berpotensi membutuhkan pembiayaan besar karena harus menanggung risiko pasar, logistik, pergudangan hingga finansial.
“Nilai transaksi ekspor ketiga komoditas ini sangat masif, estimasi perputarannya bisa menembus Rp1.000 triliun. APBN tidak akan kuat menanggung kebutuhan modal kerja dan likuiditas sebesar itu,” kata Christiantoko dalam diskusi publik di Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, persoalan utama ekspor lebih berkaitan dengan fragmentasi data antarinstansi. Karena itu, DSI diusulkan berfungsi sebagai integrated data center dan pengawas berbasis analitik risiko.
Ketua Bidang Perpajakan dan Fiskal GAPKI, Yustinus Lambang Setyo, juga merekomendasikan DSI memprioritaskan konsolidasi data dan fasilitasi, bukan menjadi offtaker.
Sementara itu, Guru Besar FEB UI Prof. Telisa Aulia Falianty mendorong pemanfaatan Big Data dan kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi anomali transaksi ekspor.
Anggota Komisi VI DPR RI Ahmad Labib menekankan agar DSI tidak memperpanjang rantai niaga, menaikkan biaya logistik, maupun mengganggu iklim investasi. DPR, kata dia, akan mendorong konsolidasi lintas lembaga agar sistem pengawasan ekspor SDA semakin efektif.(DRI)






