FACEINDONESIA.CO.ID – PT Brantas Abipraya (Persero) menegaskan komitmennya mendukung ketahanan pangan nasional melalui pembangunan Bendungan Sidan di Bali dan Bendungan Keureuto di Aceh. Kedua bendungan tersebut diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Jumat (10/7/2026) bersama tiga bendungan lainnya di berbagai provinsi.
Peresmian dipusatkan di Bendungan Meninting, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sementara Bendungan Sidan, Keureuto, Rukoh, dan Jlantah diresmikan secara hybrid.
Sekretaris Perusahaan Brantas Abipraya, Dian Sovana, mengatakan pembangunan bendungan merupakan investasi jangka panjang yang mendukung ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya air, serta kesejahteraan masyarakat.
“Peresmian Bendungan Sidan dan Keureuto menjadi wujud kontribusi Brantas Abipraya dalam mendukung Asta Cita Pemerintah, khususnya memperkuat ketahanan pangan dan pengelolaan sumber daya air nasional,” ujarnya, Sabtu (11/7/2026).
Menurut Dian, manfaat bendungan tidak hanya untuk irigasi pertanian, tetapi juga penyediaan air baku, pengendalian banjir, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Brantas Abipraya akan terus menghadirkan infrastruktur berkualitas yang memberi manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan secara berkelanjutan.
Presiden Prabowo menegaskan pembangunan bendungan merupakan investasi strategis untuk menjamin ketahanan pangan. Ia meminta agar distribusi air benar-benar sampai ke lahan pertanian.
“Pastikan air yang dibutuhkan petani sampai kepada petani. Tanpa pangan tidak ada negara,” tegasnya.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menambahkan, bendungan menjadi fondasi penting bagi kedaulatan bangsa melalui penguatan ketahanan air dan pangan.
Bendungan Sidan memiliki kapasitas tampung 5,76 juta meter kubik dengan fungsi utama menyediakan air baku 1,75 meter kubik per detik, mengairi 9.598 hektare lahan, mengurangi risiko banjir, serta menghasilkan listrik 8,08 MW.
Sementara Bendungan Keureuto berperan memasok air irigasi, mengurangi banjir seluas 627 hektare, menyediakan air baku 650 liter per detik bagi lima kecamatan di Aceh Utara, serta memiliki potensi pengembangan PLTS terapung 179 MW dan PLTA 6,3 MW.(BRA)






