Bamsoet Dorong Investasi RI-Jiangxi

FACEINDONESIA.CO.ID- Anggota DPR sekaligus Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Politik dan Keamanan KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo (Bamsoet), mendorong peningkatan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Provinsi Jiangxi, China.

Memasuki 10 tahun hubungan kedua pihak, Bamsoet menilai kerja sama perlu ditingkatkan dari sekadar perdagangan dan jejaring bisnis menjadi business matching, investasi, kerja sama industri, penguatan rantai pasok, serta penciptaan nilai tambah bagi kedua negara.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2025 ekspor Indonesia ke China mencapai sekitar 67,04 miliar dolar AS, sedangkan impor dari China sebesar 87,54 miliar dolar AS. Indonesia pun mencatat defisit perdagangan sekitar 20,50 miliar dolar AS.

Menurut Bamsoet, kondisi tersebut menunjukkan besarnya peluang untuk meningkatkan kualitas hubungan dagang dan investasi agar Indonesia memperoleh manfaat lebih besar dari proses industrialisasi.

“Orientasinya harus bergeser dari China sells to Indonesia menjadi China and Indonesia produce together in Indonesia. Indonesia harus diposisikan sebagai production base, bukan sekadar market,” ujar Bamsoet dalam acara 10th Anniversary and International Business Gala Dinner Perhimpunan Pengusaha Jiangxi Indonesia, di Jakarta, Sabtu malam (12/9/2026).

Bamsoet menjelaskan, kerja sama Indonesia-China kini mencakup berbagai sektor, mulai dari investasi, infrastruktur, energi, teknologi, ekonomi digital, pendidikan, kesehatan, pariwisata, pertanian, ekonomi hijau, kendaraan listrik, mineral strategis hingga pembangunan kawasan industri.

Khusus dengan Jiangxi, peluang kerja sama dinilai terbuka lebar. Indonesia membutuhkan pembangunan jalan, pelabuhan, energi, kawasan industri, perumahan, transportasi hingga infrastruktur digital. Sementara Jiangxi memiliki basis industri dan pengalaman dalam konstruksi, manufaktur, engineering, material serta peralatan industri.

“Kita memiliki complementary economies, complementary resources, complementary markets dan complementary strengths. Indonesia membutuhkan modal, teknologi, mesin, engineering dan pengembangan industri, sementara Jiangxi memiliki kapasitas yang relevan,” katanya.

Ia menambahkan, kerja sama dapat diperluas melalui pembangunan pabrik, joint venture, penggunaan pemasok lokal, riset dan pengembangan, serta ekspor kembali ke pasar ASEAN.

Sektor mineral strategis dan kendaraan listrik juga dinilai menjadi peluang baru. Indonesia memiliki potensi nikel, mineral strategis, baterai dan ekosistem kendaraan listrik, sementara Jiangxi memiliki basis manufaktur dan teknologi yang dapat mendukung pengembangan baterai, komponen kendaraan listrik, peralatan elektrik, advanced manufacturing dan teknologi hijau.

Namun, kerja sama tersebut harus dibangun dari hulu hingga hilir, mulai dari pengolahan sumber daya, manufaktur, penguasaan teknologi hingga ekspor. Investasi juga diharapkan memenuhi prinsip ekonomi hijau melalui penggunaan energi terbarukan, efisiensi energi, pengurangan emisi, pengelolaan limbah dan ekonomi sirkular.

Bamsoet menegaskan, Indonesia terbuka terhadap investasi Jiangxi dengan mengutamakan investasi berkualitas yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan ekspor, mendorong transfer teknologi, mengembangkan sumber daya manusia, menggunakan pemasok lokal, memperkuat industri nasional dan menjaga lingkungan.

“Prinsipnya jelas, yakni mutual benefit, rule of law, local value creation, sustainable development dan shared prosperity. Kita ingin investasi yang manfaatnya dirasakan bersama dalam jangka panjang,” pungkasnya.(DRI)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *