Apresiasi Peluncuran AI Dakwah, Sekjen Kemenag: Teknologi Harus Dikawal ‘Kesadaran Ketuhanan’

Dok.Kemenag

FACEINDONESIA.CO.ID – Derasnya arus inovasi teknologi tak boleh membuat manusia kehilangan kompas moralnya. Pesan ini ditegaskan Sekjen Kementerian Agama Kamaruddin Amin saat peluncuran platform Artificial Intelligence (AI) berbasis dakwah bernama Aiman-Aisha.

Peluncuran inovasi kecerdasan buatan yang diprakarsai oleh Republika ini diselenggarakan di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta, Rabu (4/2/2026). Ajang ini menjadi momentum bagi harmonisasi antara teknologi dan teologi di ruang digital Indonesia.

Bacaan Lainnya

Kamaruddin Amin, menggarisbawahi peran penting fondasi etis dalam setiap lompatan teknologi. Di hadapan para tokoh pers dan arsitek teknologi, Sekjen mengingatkan bahwa sehebat apa pun kecerdasan buatan, ia harus tetap tunduk pada “kesadaran ketuhanan” yang bersumber dari etika, moral, dan kedalaman nurani manusia pencipta maupun penggunanya.

Kehadiran AI Aiman-Aisha ini lahir dari sebuah keresahan sosiologis yang sangat nyata. Republika menangkap fenomena tingginya keingintahuan masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap persoalan-persoalan keagamaan sehari-hari yang bersifat ringan, namun membutuhkan petunjuk (guidance) yang jelas, jernih, dan otoritatif. Platform ini dirancang untuk menjawab kegelisahan tersebut secara real-time dengan pendekatan yang kekinian.

Untuk mewujudkan lompatan dakwah digital ini, Republika menjalin kolaborasi lintas sektor yang kokoh. Bersama LAZISMU, pengembangan AI ini turut menggandeng BytePlus, sebuah perusahaan yang berfokus pada pengembangan platform AI, yang juga merupakan bagian dari ekosistem raksasa teknologi ByteDance (perusahaan induk platform global TikTok). Sinergi ini menjanjikan pengalaman interaksi literasi agama yang canggih secara teknologi, namun tetap menjaga akurasi secara syariat.

Peluncuran yang menandai babak baru dakwah digital ini turut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyiddin, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Angga Raka Prabowo, serta Head of Partner Management BytePlus Indonesia, Mochamad Galih. Kehadiran lintas kementerian dan korporasi ini menegaskan dukungan penuh negara terhadap inovasi yang membawa maslahat bagi pencerdasan kehidupan bangsa.

Sekjen Kemenag mengapresiasi inisiatif Republika. Menurutnya, inovasi ini adalah terobosan krusial untuk membanjiri ruang siber dengan literasi keislaman yang moderat, sejuk, dan merangkul semua golongan. Namun, ia juga memberikan catatan kritis yang sangat mendalam terkait eksistensi teknologi di tengah kehidupan umat beragama.

“Teknologi boleh canggih, lompatannya boleh tak terbatas. Tetapi, jika tidak dibingkai dengan etika, ia bisa menjelma menjadi pedang bermata dua yang justru melukai kemanusiaan kita,” tegas Kamaruddin Amin. Ia mengingatkan bahwa algoritma yang disusun oleh manusia harus senantiasa dijiwai oleh nilai-nilai ilahiah agar tidak menyesatkan.

Lebih jauh, Kamaruddin meluruskan paradigma sempit yang kerap membenturkan agama dengan kemajuan zaman. Ia menepis anggapan bahwa agama adalah entitas usang yang anti-teknologi. “Di sinilah letak pentingnya peran agama. Agama hadir bukan untuk menghambat laju inovasi, melainkan untuk memberi arah dan memandu inovasi itu agar bermuara pada kesejahteraan semesta,” urainya dengan lugas.

Menutup arahan, Kamaruddin menitipkan pesan khusus kepada generasi muda yang hidup berdampingan erat dengan mesin. Ia mengingatkan bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti esensi kemanusiaan.

“Saya ingin mengingatkan, gunakanlah AI ini untuk memperluas cakrawala wawasan, bukan untuk mematikan daya kreativitas. Gunakan ia sebagai instrumen untuk memperdalam pemahaman, bukan untuk menggantikan proses berpikir. Sebab, bagi umat Islam, menggunakan akal untuk berpikir itu adalah sebuah ibadah yang sangat mulia,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *