FACEINDONESIA.CO.ID – Krisis air bersih yang semakin sering terjadi saat musim kemarau mendorong SMAN 1 Sukanagara mencari solusi jangka panjang. Pada 7–9 November 2025, tim Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) IPB University memasang sistem pemanen air hujan cerdas berbasis energi surya, sebuah inovasi adaptasi iklim yang dirancang untuk membantu sekolah mengatasi ketidakstabilan pasokan air bersih.
Selama beberapa tahun terakhir, wilayah Sukanagara mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan tidak menentu. Sumur bor sekolah kerap tidak mencukupi, sementara distribusi PDAM sering terputus. Kondisi ini berdampak langsung pada proses belajar mengajar, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar seperti wudhu, kebersihan ruang kelas, hingga kegiatan ekstrakurikuler.
“Kita melihat pola musim yang berubah. Kemarau makin panjang, sumber air makin tidak stabil. Sekolah-sekolah seperti SMAN 1 Sukanagara merasakan dampaknya secara langsung. Karena itu, teknologi pemanen air hujan bukan lagi alternatif, tetapi kebutuhan dalam adaptasi iklim,” ujar Dr. Medria Kusuma Dewi Hardhienata, ketua tim Dospulkam IPB University.
Teknologi pemanen air hujan cerdas (Smart Rain Harvesting System) ini lahir dari kolaborasi lintas disiplin yang melibatkan pakar dari IPB University (Dr. Medria Kusuma Dewi Hardhienata, Wulandari, S.Komp., M.Agr.Sc, dan Dr. Andrew Schauf), Universitas Indonesia (Dr. Sheila Tobing, Gabriella Averina Lumban Siantar, S.T., M.T. dan Emir Raya Syuhada, S.T), Energy Studies Institute (ESI) National University of Singapore (Dr. Sita Rahmani) dan Commcap (Takhta Pandu Padmanegara, B.Comm.)
Perangkat ini dilengkapi sensor turbidity untuk memantau kualitas air, flow sensor untuk mengukur aliran air, serta dashboard Internet of Things (IoT) yang menampilkan data penggunaan air secara real-time. Didukung panel surya, seluruh sistem dapat beroperasi secara mandiri bahkan ketika terjadi pemadaman listrik.
Selama tiga hari pemasangan, tim melakukan instalasi panel surya, kalibrasi sensor, pengujian sistem data, hingga verifikasi fungsi keseluruhan perangkat. Menurut Dr. Medria, langkah ini menunjukkan bagaimana teknologi sederhana namun tepat guna bisa memperkuat ketahanan komunitas dalam menghadapi perubahan iklim. “Curah hujan di Sukanagara sebenarnya tinggi. Ironis kalau sekolah tetap kekurangan air. Dengan sistem ini, kita memanfaatkan hujan yang sebelumnya terbuang, dan mengubahnya menjadi sumber air yang stabil dan terpantau,” jelasnya.
Beberapa siswa SMAN 1 Sukanagara merasakan perubahan di lingkungan sekolah mereka setelah pemasangan sistem pemanen air hujan. Menurut salah satu siswa, penggunaan air hasil penampungan untuk merawat dan menyiram tanaman membuat halaman sekolah tampak lebih hijau. “Ini membuat kami lebih semangat belajar,” ujarnya.
Dengan beroperasinya sistem ini, SMAN 1 Sukanagara diharapkan memiliki sumber air alternatif yang lebih berkelanjutan dan mudah dipantau. Inisiatif ini juga menjadi contoh bagaimana perguruan tinggi dapat menghadirkan solusi konkret bagi daerah pedesaan dalam menghadapi tantangan krisis air dan perubahan iklim.
“Adaptasi iklim itu tidak harus selalu rumit dan dapat dimulai dari teknologi yang mendukung kebutuhan dasar masyarakat. Yang terpenting adalah keberlanjutan dan dampaknya bagi warga, terutama bagi anak-anak sekolah,” tambah Dr. Medria.
Melalui program Dospulkam IPB, kolaborasi akademisi lintas universitas ini menegaskan komitmen untuk mendorong ketahanan lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat daerah. (Wis)





