FACEINDONESIA.CO.ID- PT Bio Farma (Persero) terus memperkuat industri kesehatan nasional melalui pengembangan kapasitas produksi dan penguasaan teknologi vaksin. Salah satu langkah strategis yang disiapkan adalah pembangunan fasilitas produksi baru di luar Bandung dengan kapasitas mencapai 750 juta dosis vaksin.
Rencana tersebut disampaikan dalam Danantara Technology Innovation and Investment Forum (DTIIF) 2026 yang berlangsung di Fairmont, Jakarta, pada 26-28 Oktober 2026. Dalam forum tersebut, Bio Farma juga membuka peluang kerja sama investasi untuk pembangunan fasilitas, peningkatan kapasitas manufaktur, serta pengembangan teknologi bioteknologi.
Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, mengatakan pengembangan industri bioteknologi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri, dan mitra internasional. Menurutnya, hasil penelitian perlu didukung teknologi, fasilitas manufaktur, pembiayaan jangka panjang, serta akses pasar agar dapat menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat.
Saat ini, Bio Farma memasok 13 dari 14 jenis vaksin dalam Program Imunisasi Nasional dengan kebutuhan lebih dari 120 juta dosis setiap tahun. Perusahaan juga telah menjangkau 153 negara dengan total distribusi mencapai 86 miliar dosis vaksin sejak 2001.
Melalui proyek Bio Shield Nusantara, Bio Farma menyiapkan pembangunan fasilitas produksi baru berkapasitas hingga 750 juta dosis. Direktur Riset dan Pengembangan Bio Farma, Dicky Mahardhika Taryono, menjelaskan produksi fasilitas tersebut ditargetkan mulai berjalan pada periode 2029-2031.
Selain membangun fasilitas baru, Bio Farma akan merevitalisasi sejumlah gedung produksi di kawasan Bandung-Pasteur. Pengembangan Gedung 12 dan 43 diproyeksikan menambah kapasitas sekitar 145 juta dosis, sementara Gedung 34 ditargetkan menambah sekitar tujuh juta dosis.
Dengan berbagai pengembangan tersebut, Bio Farma menargetkan pemenuhan lebih dari 90 persen kebutuhan vaksin Program Imunisasi Nasional pada 2029. Perusahaan juga berupaya mengurangi ketergantungan terhadap impor produk strategis sedikitnya 50 persen.
Penguatan industri turut dilakukan melalui pemanfaatan teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), dan virtual reality (VR) untuk mendukung penelitian, produksi, distribusi, serta peningkatan kompetensi karyawan.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Medtrack, sistem pemantauan distribusi vaksin secara real-time. Teknologi ini memungkinkan pengawasan suhu selama pengiriman sekaligus mendeteksi potensi gangguan distribusi guna menjaga kualitas vaksin melalui sistem rantai dingin.
Direktur Operasi Bio Farma, Iin Susanti, menegaskan pentingnya hilirisasi hasil penelitian agar dapat dikembangkan menjadi produk yang bisa diproduksi secara massal dan dipasarkan.
Menurutnya, pengembangan vaksin membutuhkan proses panjang, mulai dari penelitian, pengujian praklinis, uji klinis, hingga pemenuhan persyaratan regulasi. Karena itu, dukungan teknologi, pembiayaan, fasilitas manufaktur, dan sumber daya manusia yang kompeten menjadi faktor penting.
Salah satu capaian Bio Farma adalah pengembangan novel oral polio vaccine type 2 (nOPV2) yang memperoleh prakualifikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2023. Bio Farma juga memperkuat kolaborasi dengan WHO, UNICEF, Gates Foundation, dan Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI).
Di tingkat internasional, kerja sama transfer teknologi dan manufaktur juga dilakukan bersama mitra di Senegal dan Ghana untuk memperkuat kapasitas produksi vaksin.
Pada ajang Innovation Award DTIIF 2026, Bio Farma turut meraih penghargaan Biomedicine Innovation melalui inovasi vaksin rotavirus Bio RV. Produk tersebut dikembangkan sebagai vaksin rotavirus neonatal pertama di dunia.
Ketua Tim Kerja Produksi Vaksin Rotavirus, Catur Gunawan, menjelaskan bahwa vaksin Bio RV dirancang untuk memberikan perlindungan lebih dini kepada bayi sejak awal kelahiran guna membantu mencegah diare.
Ke depan, Bio Farma akan memperluas portofolio vaksin, antara lain HPV, rotavirus, tifoid konjugat, heksavalen, campak-rubela, dengue, dan hepatitis B. Perusahaan juga memperkuat penguasaan teknologi mRNA dan rekombinan serta menjajaki pengembangan produk life sciences, termasuk biosimilar dan terapi sel.
Berbagai langkah tersebut diharapkan semakin memperkuat kemandirian industri vaksin dan bioteknologi Indonesia, memperluas perlindungan imunisasi masyarakat, serta meningkatkan peran Indonesia dalam penyediaan vaksin di pasar global.(ZID)






