FACEINDONESIA.CO.ID- PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp 4,5 triliun hingga kuartal III-2026. Pada periode yang sama, total kredit dan pembiayaan perseroan tumbuh 6,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 242,6 triliun.
Presiden Direktur sekaligus Chief Executive Officer (CEO) CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengatakan perseroan mampu mempertahankan kinerja yang stabil di tengah dinamika perekonomian. Pencapaian tersebut didukung pertumbuhan bisnis berkelanjutan, pengendalian biaya yang disiplin, serta peningkatan efisiensi operasional.
Laba operasional sebelum pencadangan (Pre-Provision Operating Profit/PPoP) tercatat sebesar Rp 8,2 triliun, sedangkan pendapatan nonbunga tumbuh 7,8 persen secara tahunan.
Dari sisi penyaluran kredit, segmen perbankan korporasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 15,1 persen. Sementara itu, kredit perbankan komersial tumbuh 6,4 persen dan segmen usaha menengah serta kecil meningkat 1,9 persen.
Lani mengakui profitabilitas perseroan masih menghadapi tekanan akibat penurunan margin bunga dan peningkatan pencadangan. Langkah tersebut merupakan bagian dari penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan risiko kredit.
Meski demikian, kondisi permodalan dan likuiditas tetap terjaga. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) mencapai 23,7 persen, sementara total dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp 273,7 triliun.
Dana murah atau Current Account and Savings Account (CASA) tumbuh 4,4 persen secara tahunan menjadi Rp 197 triliun. Capaian ini meningkatkan rasio CASA menjadi 72 persen. Adapun total aset konsolidasian CIMB Niaga mencapai Rp 384,8 triliun per 30 September 2026, tumbuh 4,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (Loan to Deposit Ratio/LDR) tercatat sebesar 87,7 persen.
Di bidang pembiayaan berkelanjutan, CIMB Niaga menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 65 triliun selama sembilan bulan pertama 2026. Nilai tersebut setara dengan 26,6 persen dari total portofolio pembiayaan bank, mencakup pembiayaan terkait keberlanjutan, produk ramah lingkungan, efisiensi sumber daya, dan transportasi berkelanjutan.
Perseroan juga memperkuat penerapan Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) sebagai acuan klasifikasi kegiatan ekonomi berkelanjutan. Kerangka ini melengkapi Green, Social and Sustainable Impact Products and Services (GSSIPS) yang diterapkan CIMB Niaga.
Pada layanan digital, sekitar 90 persen transaksi nasabah dilakukan melalui kanal digital selama sembilan bulan pertama 2026. Transaksi QRIS melalui aplikasi OCTO meningkat 69 persen secara tahunan, transfer BI-FAST tumbuh 38 persen, dan pembayaran tagihan naik 29 persen.
Transaksi produk investasi melalui OCTO, yang meliputi reksa dana, Surat Berharga Negara (SBN) Ritel, dan obligasi pasar sekunder, meningkat 22 persen secara tahunan hingga September 2026. Nilai transaksi pada kategori tersebut juga tumbuh 19 persen dalam periode yang sama.
Untuk memperkuat layanan kepada nasabah, per 30 September 2026 CIMB Niaga mengoperasikan 41 Digital Branch dan 30 Digital Hub di berbagai wilayah Indonesia. Fasilitas ini menyediakan layanan pembukaan rekening, penerbitan kartu debit, hingga pembaruan data nasabah yang dapat diselesaikan dalam waktu sekitar lima menit.
Lani menegaskan, CIMB Niaga akan terus menerapkan strategi adaptif dan berhati-hati dalam menghadapi dinamika ekonomi, sekaligus mengoptimalkan kinerja untuk mengatasi tantangan profitabilitas jangka pendek dan menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat serta berkelanjutan.(SAN)






