FACEINDONESIA.CO.ID- PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) terus mengandalkan inovasi dan teknologi untuk menjaga produksi minyak dan gas bumi (migas) di Attaka Field, Kalimantan Timur. Di tengah usia fasilitas yang semakin tua dan penurunan produksi alamiah, perusahaan berupaya memastikan operasional tetap aman, andal, efisien, dan berkelanjutan.
Attaka Field merupakan salah satu lapangan migas tertua di Kalimantan Timur. Pengelolaannya menghadapi tantangan berupa kondisi fasilitas yang telah beroperasi puluhan tahun, risiko kerusakan peralatan, cuaca ekstrem, serta kebutuhan menjaga keselamatan pekerja di wilayah lepas pantai.
Superintendent Production Attaka PHKT, Hendra Murdani, mengatakan mempertahankan produksi dari lapangan yang telah memasuki fase matang membutuhkan dedikasi, disiplin, dan inovasi seluruh pekerja.
“Setiap barel minyak dan setiap Million Standard Cubic Feet (MMSCF) gas yang masih dapat diproduksikan adalah hasil dari kerja keras, dedikasi, dan inovasi seluruh tim,” ujar Hendra kepada Rakyat Merdeka.
Untuk menjaga keandalan fasilitas, PHKT memanfaatkan pemantauan digital, analisis data, inspeksi berbasis risiko (risk-based inspection), serta pemeliharaan prediktif (predictive maintenance). Pendekatan ini membantu menentukan prioritas perawatan, mengantisipasi potensi gangguan, dan mengalokasikan sumber daya secara lebih efektif.
Menurut Hendra, keselamatan tetap menjadi prinsip utama dalam setiap kegiatan operasional.
“Tidak ada keberhasilan produksi yang layak dirayakan jika harus mengorbankan keselamatan,” tegasnya.
Selain menjaga produksi, PHKT juga memperkuat upaya pengurangan emisi melalui pengurangan pembakaran gas suar (flaring), optimalisasi penggunaan fuel gas, pencegahan kebocoran hidrokarbon, serta peningkatan efisiensi energi.
Manajer Riset Dekarbonisasi Sektoral Institute for Essential Services Reform (IESR), Dr. Farid Wijaya, menilai keberhasilan industri hulu migas ke depan tidak cukup diukur dari besarnya produksi. Perusahaan juga perlu memperhatikan intensitas emisi, inovasi dekarbonisasi, dan kontribusi terhadap ketahanan energi yang berkelanjutan.
Salah satu contoh inovasi lingkungan di wilayah operasi PHKT adalah proyek percontohan Rig to Reef di Attaka yang diselesaikan pada November 2022. Program tersebut memanfaatkan bagian anjungan migas yang telah dinonaktifkan sebagai terumbu buatan untuk mendukung habitat laut.
Sementara itu, Senior Manager Relations PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), Handri Ramdhani, menyampaikan bahwa pada triwulan I-2026, PHI mencatat realisasi produksi minyak lebih dari 120 persen dari target dan produksi gas sekitar 104 persen dari target.
PHI juga melaporkan pengurangan emisi sebesar 222,87 ribu ton karbon dioksida ekuivalen (CO₂e) sepanjang 2024, meningkat 32,88 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada periode yang sama, perusahaan menjalankan 33 program pengurangan emisi.
Capaian tersebut merupakan hasil pada tingkat PHI dan Regional 3 Kalimantan, sehingga tidak seluruhnya dapat dikaitkan secara khusus dengan penerapan teknologi di Attaka Field.
Bagi Hendra, menjaga lapangan migas yang telah beroperasi puluhan tahun bukan sekadar mempertahankan angka produksi, melainkan menjalankan amanah untuk mendukung ketahanan energi nasional.
Melalui pemanfaatan teknologi, pemeliharaan terencana, budaya keselamatan, dan pengendalian dampak lingkungan, PHKT berupaya memastikan produksi migas yang masih dibutuhkan Indonesia dikelola secara bertanggung jawab di tengah transisi menuju energi rendah karbon.(ZID)






