FACEINDONESIA.CO.ID- PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menargetkan Indonesia menjadi pusat regional penangkapan dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture and Storage (CCS) di Asia. Langkah ini diharapkan mempercepat dekarbonisasi kawasan sekaligus membuka peluang pengembangan industri rendah karbon di Indonesia.
Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE, Dannif Utojo Danusaputro, menyampaikan target tersebut dalam Japan CCUS Summit 2026 di Tokyo, Jepang, Senin (19/10/2026). Dalam forum bertema From Partnerships to Projects: Delivering Cross-Border CCS between Japan and Asia itu, ia menekankan pentingnya kepastian regulasi, kelembagaan, dan kelayakan finansial untuk mendukung investasi CCS lintas negara.
Menurut Dannif, proyek CCS membutuhkan komitmen investasi jangka panjang, bahkan hingga 20–30 tahun. Karena itu, investor memerlukan kepastian aturan, transparansi perizinan dan pengawasan, serta model bisnis yang layak secara finansial.
“Bagi investor dan industri penghasil emisi di Jepang, kepercayaan dibangun di atas tiga pilar utama, yakni kepastian regulasi untuk mengelola risiko jangka panjang, kejelasan kelembagaan yang terkoordinasi dan transparan, serta kelayakan finansial jangka panjang (bankability),” ujar Dannif.
Ia menjelaskan, Indonesia memiliki potensi penyimpanan karbon secara geologis yang strategis karena lokasinya berdekatan dengan sejumlah pusat industri utama di Asia. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan penyimpanan emisi negara-negara mitra, termasuk Jepang.
Namun, pengembangan CCS lintas negara membutuhkan pasokan karbon dioksida (CO₂) yang terjamin, kesiapan fasilitas penangkapan karbon, serta kontrak komersial jangka panjang. Pembangunan infrastruktur juga memerlukan investasi besar, mulai dari studi karakterisasi, pengeboran sumur, fasilitas injeksi, hingga sarana transportasi karbon.
Untuk memperkuat pengembangan proyek, PHE mendorong kolaborasi dengan pemerintah dan mitra industri, pembangunan infrastruktur berskala hub, serta transparansi dalam setiap tahapan investasi.
PHE menargetkan keputusan investasi akhir (Final Investment Decision/FID) untuk proyek CCS lintas batas komersial pertama di kawasan Asia-Pasifik dapat dicapai dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Tahap tersebut diharapkan menjadi landasan untuk melanjutkan proyek menuju injeksi karbon.
Dannif menilai keberhasilan proyek pertama akan menjadi pembuktian penting bagi pengembangan CCS lintas negara. Implementasi tersebut diharapkan menunjukkan bahwa CO₂ dapat ditangkap di satu negara, diangkut secara aman melintasi perbatasan, kemudian disimpan secara permanen dengan dukungan regulasi yang andal.
Pengembangan ini sejalan dengan visi Asia Zero Emission Community (AZEC), yaitu inisiatif kerja sama untuk mendukung pengurangan emisi di Asia. Jepang berpeluang memperoleh alternatif penyimpanan karbon jangka panjang, sedangkan Indonesia dapat mengembangkan industri baru bernilai tambah dengan emisi lebih rendah.
“Bersama pemerintah, kami berkomitmen menjadikan Indonesia sebagai hub CCS regional yang andal dan terpercaya untuk mendukung perjalanan dekarbonisasi di Asia,” tegas Dannif.
PHE juga menegaskan komitmennya menjalankan bisnis hulu minyak dan gas bumi secara berkelanjutan dengan menerapkan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG), memperkuat tata kelola perusahaan, serta menjaga integritas dan kepatuhan dalam operasional bisnis.(ZID)






