FACEINDONESIA.CO.ID- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengembangkan hilirisasi hasil samping pengolahan ikan di Sukabumi, Jawa Barat, menjadi produk nonpangan bernilai tambah, salah satunya tepung ikan untuk bahan baku pakan.
Program ini bertujuan meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan, membuka peluang usaha baru, serta memperkuat ekonomi sirkular dan penerapan ekonomi biru yang berkelanjutan.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Erwin Dwiyana, mengatakan pengembangan industri diversifikasi produk nonpangan skala mikro dan kecil menjadi bagian dari upaya mendorong pemanfaatan potensi lokal.
Menurut Erwin, hasil samping dari aktivitas pendaratan, penanganan, dan pengolahan ikan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu, Sukabumi, berpotensi diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
Bahan tersebut meliputi kepala, tulang, kulit, sisik, hingga jeroan ikan, dengan jumlah diperkirakan mencapai 50–100 kilogram per hari.
“Ini bukan sekadar penanganan limbah produksi perikanan, tapi membuka peluang usaha produk nonpangan dan dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja,” ujar Erwin di Jakarta, Minggu (4/10/2026).
Ia menjelaskan, pengembangan industri ini membutuhkan kolaborasi antara pengelola PPN Palabuhanratu, pemerintah daerah, pelaku usaha perikanan, Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBAT) Sukabumi sebagai calon pembeli hasil produksi (offtaker), serta unit pakan mandiri yang memiliki sertifikat Cara Pembuatan Pakan Ikan yang Baik (CPPIB).
Melalui kerja sama tersebut, KKP berharap pemanfaatan hasil samping perikanan dapat menciptakan peluang ekonomi baru sekaligus memberikan kepastian pasar bagi pelaku usaha.
Pengembangan ini juga diharapkan mendukung program nasional, seperti Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dan Budidaya Tematik.
Tekan Ketergantungan Tepung Ikan Impor
Perwakilan BBAT Sukabumi, Susi Rosellia, menilai produksi tepung ikan lokal penting untuk memperkuat ketahanan industri pakan nasional.
Ia menjelaskan, tepung ikan lokal berkualitas dengan kandungan protein sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) 2715:2013 dibutuhkan untuk menekan biaya produksi pakan dan mendukung keberlanjutan industri akuakultur.
“Ketergantungan terhadap pakan dan bahan baku impor seperti tepung ikan masih cukup tinggi, dan pengolahan sisa industri adalah solusi kemandirian budidaya,” kata Susi.
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi, Sri Padmoko, menyambut baik pengembangan industri produk nonpangan tersebut.
Ia menyebutkan, potensi sisa pengolahan fillet ikan di Sukabumi dapat mencapai 500 kilogram per hari atau sekitar 10 ton per bulan.
Menurut Sri, potensi tersebut dapat memberikan nilai ekonomi tinggi apabila dikelola secara terstruktur melalui kemitraan yang jelas antarpemangku kepentingan.
Sebagai langkah awal, KKP telah menggelar Sosialisasi Diversifikasi dan Nilai Tambah Produk Perikanan Nonpangan pada 10 September 2026 di Palabuhanratu. Kegiatan ini melibatkan PPN Palabuhanratu, BBAT Sukabumi, Dinas Kelautan dan Perikanan Sukabumi, serta akademisi, khususnya dari Sekolah Vokasi IPB.
Melalui program ini, pemanfaatan sisa pengolahan ikan diharapkan tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat dan pelaku usaha di sekitar sentra perikanan.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa program Kampung Nelayan Merah Putih menjadi salah satu strategi memperkuat hilirisasi sektor perikanan sekaligus meningkatkan kesejahteraan nelayan di berbagai daerah.(ZID)






