FACEINDONESIA.CO.ID-PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA mempercepat transformasi dan pembenahan perusahaan setelah mendapat arahan Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN). Langkah ini dilakukan untuk memperkuat fundamental perusahaan di tengah kondisi ekuitas negatif, unsustain loan Rp4,7 triliun, serta kerugian yang mencapai Rp670 miliar.
General Manager Corporate Secretary INKA Bambang Sutrisno mengatakan, arahan tersebut menjadi momentum untuk memperbaiki berbagai aspek perusahaan, mulai dari proses internal hingga efektivitas pelaksanaan proyek.
“Fokus kami membangun fundamental perusahaan yang lebih sehat, proses bisnis semakin efektif, serta kemampuan yang semakin kuat dalam menjalankan dan menyelesaikan setiap proyek,” ujar Bambang dalam keterangan resmi, Kamis (17/9/2026).
Pembenahan dilakukan dengan memperkuat keterkaitan antara perencanaan, pengelolaan kontrak, pelaksanaan proyek, proses produksi hingga penyelesaian pekerjaan kepada pelanggan.
INKA juga terus memperbaiki likuiditas dan struktur keuangan perusahaan. Disiplin dalam pengelolaan proyek menjadi bagian penting, terutama dalam pengendalian jadwal, biaya, risiko, serta pemenuhan komitmen kepada pelanggan.
“Setiap proyek harus dikelola secara disiplin sejak awal, baik dari aspek teknis, kontraktual maupun finansial,” tegasnya.
Selain itu, perseroan memperkuat proses produksi dan sistem kualitas guna memastikan sarana perkeretaapian yang dihasilkan memenuhi aspek keselamatan, keandalan dan standar yang dipersyaratkan.
Transformasi INKA juga diarahkan untuk mempertahankan dan mengembangkan kemampuan industri perkeretaapian nasional, termasuk bidang engineering, manufaktur, tenaga kerja terampil, teknologi dan ekosistem industri pendukung.
“Yang ingin kami bangun bukan hanya keberlanjutan perusahaan, tetapi juga kemampuan industri perkeretaapian Indonesia,” kata Bambang.
Butuh Pemulihan Serius
Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria menilai kondisi INKA membutuhkan langkah pemulihan atau turnaround yang serius.
Dony menyebut, INKA menghadapi sejumlah persoalan, di antaranya ekuitas negatif, unsustain loan Rp4,7 triliun dan kerugian perusahaan hingga Rp670 miliar.
Menurutnya, pembenahan membutuhkan komitmen seluruh jajaran perusahaan dengan mengedepankan tata kelola yang kuat.
“Kami ingin melakukan turnaround dan itu hanya bisa dilakukan kalau semua punya komitmen yang sama, ingin membuat perusahaan ini menjadi lebih baik, dengan governance yang benar,” ujar Dony, Selasa (15/9/2026).
Transformasi INKA akan mencakup berbagai aspek fundamental, mulai dari model bisnis, tata kelola, budaya kerja, kualitas produksi, operasional, teknik, keuangan hingga proses bisnis.
Seluruh pembenahan tersebut akan dituangkan dalam grand plan transformasi yang terintegrasi sebagai acuan perbaikan perusahaan.
Sementara itu, pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai INKA memiliki potensi untuk menjadi penggerak industri perkeretaapian nasional. Menurutnya, INKA memiliki inovasi dan telah mengerjakan sejumlah proyek, termasuk untuk pasar luar negeri.
Namun, Djoko menilai kesinambungan proyek menjadi salah satu persoalan yang memengaruhi kinerja keuangan INKA. Proyek yang berlangsung dalam periode tertentu membuat arus kas perusahaan dapat berubah-ubah.
Karena itu, kesinambungan proyek dan perolehan kontrak perlu menjadi perhatian. Pemerintah juga dinilai perlu memberikan dukungan agar pekerjaan INKA tetap berkelanjutan.
Djoko juga menyebut konsolidasi INKA dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI sebagai salah satu langkah yang dapat membantu memperkuat kinerja perusahaan.
Selain menjaga kesinambungan proyek, INKA dinilai perlu mengembangkan sumber pendapatan baru. Salah satunya melalui pengembangan bus listrik untuk kebutuhan dalam negeri.
Dengan pembenahan tata kelola, penguatan keuangan, kesinambungan proyek dan pengembangan bisnis, INKA diharapkan mampu memperbaiki kinerja sekaligus mempertahankan daya saing industri perkeretaapian nasional.(DRI)






