FACEINDONESIA.CO.ID- Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memperkuat pemulihan usaha masyarakat terdampak bencana di Aceh melalui pendampingan terintegrasi yang meliputi peningkatan kapasitas produksi, perluasan akses pasar, dan akses pembiayaan.
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Peningkatan Kapasitas Usaha Terdampak Bencana Regional 1 Aceh Tahun 2026 di Takengon, Aceh Tengah, Rabu (16/9).
Program ini difokuskan pada tiga kebutuhan utama UMKM dalam memulihkan usaha, yakni penguatan akses pasar, peningkatan kapasitas produksi, serta pendampingan akses pembiayaan.
Plt. Asisten Deputi Pendampingan Inovasi dan Keberlanjutan Usaha Kementerian UMKM Asep Abdullah mengatakan, pendampingan penting untuk membantu pelaku UMKM terdampak bencana kembali produktif sekaligus mengembangkan usahanya.
“Pendampingan dan peningkatan kapasitas bagi wirausaha terdampak bencana merupakan bagian dari upaya meningkatkan kembali produktivitas usaha,” ujar Asep.
Menurutnya, pemulihan tidak cukup hanya dengan membantu UMKM kembali berproduksi. Pelaku usaha juga perlu memiliki fondasi bisnis yang kuat agar dapat berkembang secara berkelanjutan.
“Program ini sekaligus mempersiapkan UMKM agar dapat bertumbuh dan menjalankan usahanya secara berkelanjutan,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pemasaran produk, serta mengakses sumber pembiayaan sesuai kebutuhan usaha.
Untuk memperluas pasar, Kementerian UMKM berkolaborasi dengan PaDi UMKM dan sejumlah mitra. Sementara akses pembiayaan diperkuat melalui kolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Syariah Indonesia (BSI), dan lembaga keuangan lainnya.
Pendampingan juga melibatkan lembaga inkubator dan dinas terkait yang disesuaikan dengan kebutuhan serta tahapan pengembangan masing-masing usaha.
Selain pendampingan langsung, peserta diarahkan melakukan onboarding pada aplikasi SAPA UMKM. Sistem ini menjadi bagian dari upaya membangun pendampingan yang lebih terukur serta memantau perkembangan usaha secara berkelanjutan.
Asep menjelaskan, pemanfaatan SAPA UMKM memungkinkan perkembangan usaha peserta dipantau dan dievaluasi secara berkala sehingga kebutuhan pendampingan lanjutan dapat diidentifikasi.
Dukungan terhadap pemulihan UMKM juga disampaikan Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tengah Alam Syuhada. Ia mengajak pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga keuangan, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan memperkuat sinergi dalam membangun ketangguhan UMKM Aceh.
“Kita perlu terus bersinergi agar UMKM Aceh semakin tangguh, mandiri, dan berkelanjutan,” ujar Alam.
Program tersebut mendapat respons positif dari peserta. Irsyad, pemilik usaha makanan dan minuman asal Takengon, berharap pendampingan yang diperoleh dapat meningkatkan kapasitas produksi dan mengembangkan usahanya.
“Saya berharap ilmu yang didapat dari kegiatan ini bisa membantu usaha saya semakin berkembang, terutama dalam peningkatan kapasitas,” ujar Irsyad.
Harapan serupa disampaikan Akis Suryani, pemilik usaha minuman jahe. Ia berharap pendampingan akses pasar dapat membantu produknya menjangkau lebih banyak konsumen.
“Saya berharap melalui pendampingan akses pasar ini, produk saya bisa menjangkau target pasar yang lebih luas,” kata Akis.
Kementerian UMKM akan terus memantau perkembangan usaha peserta dan memastikan pendampingan berjalan secara berkelanjutan. Dengan sinergi pemerintah, pemerintah daerah, lembaga keuangan, lembaga pendamping, dan pelaku UMKM, pemulihan usaha diharapkan dapat berlangsung lebih cepat.
Program ini diharapkan mampu membantu UMKM Aceh terdampak bencana kembali produktif, berkembang, dan semakin tangguh menghadapi tantangan ke depan.(ZID)






