Guru SMK Perlu Punya Business Mindset

FACEINDONESIA.CO.ID- Kompetensi guru SMK tidak cukup hanya menguasai teori dan praktik. Guru juga perlu mampu melihat peluang agar keterampilan yang dimiliki dapat dikembangkan, memiliki nilai tambah, dan diterapkan di dunia nyata.

Hal tersebut menjadi pesan dalam Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Kejuruan Berbasis Dunia Kerja Moda Luring Angkatan 4 yang digelar di BBPPMPV Pertanian Cianjur, 12 September 2026.

Bacaan Lainnya

Sebanyak 147 guru SMK mengikuti pelatihan tujuh kompetensi keahlian, yaitu Bakery & Pastry, Hidroponik Melon, Pengolahan Buah, Anggrek, Penetasan Telur, Hijauan Pakan Ternak, dan Rekayasa Pakan Buatan.

Pelatihan berlangsung selama 120 jam pelajaran (JP), terdiri dari 40 JP pembekalan, 70 JP pengalaman di dunia kerja, serta 10 JP uji kompetensi dan sertifikasi.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat mengatakan, penguasaan kompetensi perlu dibarengi dengan business mindset atau pola pikir bisnis. Menurutnya, pola pikir tersebut penting agar guru mampu melihat peluang dan menciptakan nilai tambah dari kompetensi yang dimiliki.

“Kalau kita punya kompetensi produksi tapi tidak bisa dikomersialisasi itu yang bikin frustasi,” ujar Atip.

Ia menambahkan, business mindset bukan sekadar berbicara mengenai perdagangan dan keuntungan. Pola pikir tersebut mendorong seseorang untuk melihat berbagai kemungkinan agar keterampilan yang dimiliki dapat memberikan manfaat lebih luas.

Dalam bidang pertanian, misalnya, kompetensi tidak hanya berhenti pada proses produksi. Guru dapat mengembangkan keterampilan tersebut menjadi agribisnis hingga agrowisata dengan memahami proses dari hulu sampai hilir.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin mengatakan, pengalaman langsung di dunia kerja penting agar kompetensi yang diperoleh guru dapat dipraktikkan dan diterapkan kembali di sekolah.

“Yang paling penting di samping ngajar coba dipraktikkan,” kata Tatang.

Menurutnya, kompetensi yang diperoleh selama pelatihan juga dapat dikembangkan menjadi praktik nyata dan peluang usaha yang melibatkan peserta didik. Karena itu, guru diharapkan tidak berhenti setelah mendapatkan ilmu dari pelatihan.

Setelah pembekalan, para peserta akan menjalani pengalaman di dunia kerja selama 70 JP, kemudian mengikuti uji kompetensi dan sertifikasi. Tahapan ini memberikan kesempatan kepada guru untuk memahami praktik serta budaya kerja secara langsung.

Kepala BBPPMPV Pertanian Cianjur Joko Ahmada Julifan mengatakan, pelatihan berbasis dunia kerja merupakan bagian dari upaya meningkatkan kompetensi guru kejuruan. Pengalaman tersebut diharapkan dapat dibawa kembali ke sekolah dan diterapkan dalam proses pembelajaran.

Tatang menilai pengalaman tersebut juga dapat mengubah pandangan siswa terhadap sektor pertanian yang selama ini masih dianggap konvensional.

“Kalau kita tunjukkan saya bisa berbuat seperti ini, maka anak-anak itu (berpikir), kok ternyata pertanian itu asik,” ujarnya.

Pelatihan peningkatan kompetensi guru SMK ini diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan tenaga pendidik, tetapi juga mendorong penerapan pengalaman dunia kerja di kelas. Dengan business mindset, guru dapat membantu siswa melihat bahwa keterampilan dapat dikembangkan menjadi produk, inovasi, maupun peluang usaha.(ZID)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *