FACEINDONESIA.CO.ID- PT Pertamina Patra Niaga terus memperkuat kesiapan infrastruktur untuk mendukung program biodiesel B50. Hingga 20 Agustus 2026, penyaluran B50 rata-rata mencapai sekitar 73 ribu kiloliter (KL) per hari.
Biodiesel B50 merupakan bahan bakar solar dengan campuran 50 persen Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis minyak kelapa sawit dan 50 persen solar fosil. Program ini mulai diluncurkan dan didistribusikan secara bertahap sejak 1 Juli 2026.
Direktur Optimasi Hilir dan Distribusi Pertamina Patra Niaga, Hari Purnomo, mengatakan pihaknya terus memastikan kesiapan fasilitas, kualitas produk, keselamatan, serta keandalan distribusi B50.
Dalam pelaksanaannya, Pertamina Patra Niaga menangani seluruh proses, mulai dari penerimaan FAME, penyimpanan, pencampuran dengan solar hingga distribusi kepada masyarakat.
FAME diterima dari Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BUBBN) melalui kapal laut, mobil tangki, maupun jaringan pipa yang terhubung dengan terminal Pertamina. Selanjutnya, FAME disimpan sebelum masuk proses blending.
Proses pencampuran dilakukan melalui metode sequential blending dan inline blending. Pertamina juga telah menyiapkan New Gantry System untuk pengisian B50 ke kendaraan tangki. Fasilitas tersebut tersedia di 11 lokasi di berbagai wilayah Indonesia.
Hingga 19 Agustus 2026, implementasi B50 telah mencakup 120 terminal BBM di seluruh Indonesia. Pertamina Patra Niaga juga menyiapkan 40 titik serah FAME dengan kapasitas aman penyimpanan terminal eksisting mencapai 271.691 KL.
Untuk mendukung penyaluran tersebut, kebutuhan bahan baku rata-rata mencapai sekitar 36,7 ribu KL FAME dan 36,7 ribu KL solar setiap hari.
Hari menegaskan, perencanaan distribusi menjadi hal penting mengingat kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau.
“Kami berkoordinasi secara intensif dengan Pemerintah, khususnya Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), maupun dengan BUBBN,” ujar Hari.
Program Mandatori Biodiesel B50 diharapkan memperkuat ketahanan energi nasional, mengurangi ketergantungan terhadap impor solar, menghemat devisa, meningkatkan penyerapan CPO, membuka lapangan kerja, serta menekan emisi gas rumah kaca.
Hari optimistis B50 dapat menjadi bagian penting dalam mewujudkan kemandirian energi Indonesia. Ia menegaskan, implementasi B50 hingga saat ini turut mendukung upaya menjaga pemenuhan kebutuhan solar tanpa harus mengandalkan impor produk solar.
Sementara itu, Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Hamdan Hamedan, menilai implementasi B50 merupakan bagian dari perjalanan panjang pengembangan biodiesel di Indonesia selama 18 tahun.
Menurut Hamdan, pengembangan biodiesel menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Ia menilai percepatan implementasi B50 menunjukkan komitmen Indonesia menuju kemandirian energi.(DRI)






