FACEINDONESIA.CO.ID – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) memperluas kerja sama internasional dengan Kanada dan Nanyang Technological University (NTU) Singapura guna memperkuat mutu pendidikan tinggi, kolaborasi riset, serta pengembangan talenta nasional.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, saat menerima Duta Besar RI untuk Kanada, Muhsin Syihab, di Jakarta, membahas penguatan kemitraan pendidikan tinggi yang mencakup pengembangan talenta, mobilitas mahasiswa dan dosen, kolaborasi riset, hingga kerja sama antarkampus.
Brian mengatakan, Kanada menjadi salah satu negara tujuan Program Sekolah Garuda. Pemerintah berharap perguruan tinggi di Kanada dapat mendukung mahasiswa Indonesia mulai dari proses penerimaan hingga penyelesaian studi.
Selain Program Sekolah Garuda, kedua pihak juga membahas penyelesaian Nota Kesepahaman (MoU) antara Kemendiktisaintek dan Kementerian Post-Secondary Education and Future Skills Provinsi British Columbia. Kerja sama ini mencakup pengembangan program akademik bersama, peningkatan mobilitas mahasiswa dan dosen, serta riset di berbagai bidang strategis.
Hingga September 2025, tercatat 108 perjanjian kerja sama aktif antara perguruan tinggi Indonesia dan Kanada, meliputi pertukaran mahasiswa, riset bersama, pengembangan program akademik, hingga penyelenggaraan seminar ilmiah.
Dubes RI untuk Kanada, Muhsin Syihab, menilai sistem pendidikan tinggi Kanada yang dikelola pemerintah provinsi membuka peluang kolaborasi lebih luas. KBRI Ottawa juga akan terus memfasilitasi berbagai inisiatif untuk mempererat hubungan antarperguruan tinggi kedua negara.
Pertemuan tersebut turut membahas Beasiswa Indonesia Maju dan Beasiswa Garuda bagi mahasiswa Indonesia di Kanada, termasuk penguatan pembekalan sebelum keberangkatan, orientasi budaya, serta peningkatan dukungan beasiswa.
Sebelumnya, Brian juga menerima delegasi NTU Singapura untuk membahas penguatan kerja sama di bidang pendidikan tinggi, sains, dan teknologi. Fokus kerja sama meliputi pengembangan program akademik bersama, riset kolaboratif, serta peningkatan mobilitas mahasiswa dan dosen.
Delegasi NTU melaporkan Program INSPIRASI yang telah berjalan selama setahun menghasilkan peningkatan publikasi ilmiah bersama dan riset di bidang energi terbarukan, baterai, panas bumi, pemanfaatan karbon hayati, fondasi digital, hingga kecerdasan artifisial.
Sejumlah penelitian juga telah menghasilkan kepemilikan kekayaan intelektual bersama.
NTU juga telah menerima 60 mahasiswa Indonesia dalam program musim panas, menyelenggarakan lokakarya School of Materials Science and Engineering, serta memperkuat kolaborasi melalui program Women in Science.
Brian berharap semakin banyak perguruan tinggi di Indonesia membangun kemitraan yang lebih luas dan konkret dengan NTU untuk meningkatkan daya saing pendidikan tinggi Indonesia di tingkat global.(DEN)






