FACEINDONESIA.CO.ID – Komisaris Utama Pertamina, Mochamad Iriawan, menegaskan bahwa investasi terbaik bagi Indonesia saat ini adalah pembangunan sumber daya manusia (SDM).
Menurutnya, SDM yang unggul menjadi faktor utama dalam menghadapi transisi energi global, perkembangan teknologi, dan persaingan ekonomi yang semakin ketat.
Pernyataan tersebut disampaikan Iriawan saat menghadiri penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara PT Pertamina (Persero) dan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) di Jakarta, Senin (22/6).
Kerja sama ini berfokus pada penguatan pelatihan vokasi di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) guna mendukung lahirnya tenaga kerja yang kompeten dan berdaya saing.
“Keberhasilan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh besarnya aset atau teknologi yang dimiliki, tetapi juga kualitas SDM yang adaptif dan unggul. Karena itu, investasi pada manusia adalah investasi terbaik,” ujar Iriawan.
Pria yang akrab disapa Iwan Bule itu menilai kolaborasi Pertamina dan Kemnaker memiliki nilai strategis dalam menyiapkan tenaga kerja menghadapi perubahan industri energi menuju ekonomi rendah karbon.
Menurutnya, penguatan kompetensi tenaga kerja menjadi kebutuhan penting seiring meningkatnya peran Pertamina dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Karena itu, budaya keselamatan kerja harus menjadi bagian dari transformasi perusahaan.
Kerja sama tersebut juga sejalan dengan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pembangunan SDM sebagai prioritas nasional.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia menilai Pertamina sebagai aset strategis bangsa yang perlu terus diperkuat melalui peningkatan kompetensi SDM dan hubungan industrial yang sehat.
“Kami siap mendukung pengembangan kompetensi tenaga kerja, termasuk menghadapi kebutuhan future skills yang menjadi tantangan dunia kerja ke depan,” kata Yassierli
Sementara itu, Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza menegaskan bahwa aspek keselamatan kerja menjadi kebutuhan utama bagi pekerja Pertamina Grup yang beroperasi dari sektor hulu hingga hilir.
Menurut Oki, peningkatan kompetensi K3 semakin penting untuk mendukung target pemerintah dalam meningkatkan produksi minyak nasional hingga mencapai satu juta barel per hari pada 2029.
Sebagai tindak lanjut kerja sama tersebut, Pertamina dan Kemnaker menjalankan dua program utama. Pertama, Training of Trainer (ToT) HSSE Passport bagi instruktur Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP/BPVP) Kemnaker yang telah digelar di Bekasi, Sidoarjo, Semarang, Medan, dan Serang.
Kedua, pelatihan HSSE Passport bagi 250 tenaga kerja mitra Pertamina yang dilaksanakan secara serentak. Program ini diharapkan mampu memperkuat budaya keselamatan kerja dan menciptakan lingkungan kerja yang aman, produktif, serta bertanggung jawab.
Sinergi Pertamina dan Kemnaker menunjukkan bahwa pembangunan SDM unggul membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah dan dunia usaha untuk menyiapkan tenaga kerja yang siap menghadapi tantangan industri energi masa depan.(ZID)






