Menag Minta PTKN Rumuskan Konsep Kurikulum Ekoteologi

Menteri Agama Nasaruddin Umar, prosesi penandatanganan peresmian alih status dari IAIN menjadi UIN Syekh Wasil Kediri. Dok. Menag

FACEINDONESIA.CO.ID – Menteri Agama Nasaruddin Umar meminta Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) untuk menyusun kurikulum ekoteologi. Hal ini disampaikan Menag pada seminar nasional Pengembangan PTKN Berbasis Ekoteologi guna menyelaraskan kebijakan kampus yang senafas dengan kebijakan ekoteologi Kementerian Agama di Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Wasil Kediri.

Acara ini dirangkai dengan prosesi penandatanganan peresmian alih status dari IAIN menjadi UIN Syekh Wasil Kediri.

Bacaan Lainnya

Menurut Menag, transformasi kelembagaan menjadi universitas harus diikuti dengan perubahan paradigma keilmuan yang berdampak langsung pada kemaslahatan masyarakat dan lingkungan. Kurikulum ekoteologi dinilai mendesak untuk merevisi pemahaman keagamaan masyarakat yang selama ini cenderung menempatkan alam hanya sebagai objek eksploitasi.

“Jadi PR kita sebagai UIN tidak sedikit lah. Kita perlu menciptakan suatu konsep kurikulum ekoteologi, yang merevisi konsep teologi kita yang berkembang dalam masyarakat,” ujar Menag di Kediri, (20/6/2026).

Menag menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif bahwa manusia dan alam adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Pendekatan teologi berbasis lingkungan (ekoteologi) ini diharapkan dapat mengubah cara pandang masyarakat dalam memperlakukan alam semesta.

“Bagaimana supaya kita menganggap alam dan manusia itu bukan sesuatu yang terpisah. Persahabatan dengan alam semesta jauh lebih menyelamatkan daripada menjadikan alam ini sebagai objek (eksploitasi),” tegasnya.

Rekam Jejak Transformasi Kampus

Peresmian alih status dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri menjadi UIN Syekh Wasil Kediri ini ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Menteri Agama.

Perubahan status ini menjadi babak baru bagi perguruan tinggi Islam tersebut setelah melalui perjalanan historis yang panjang sejak era 1960-an.

Cikal bakal kampus ini dimulai pada tahun 1961 sebagai Fakultas Ushuluddin cabang IAIN Sunan Ampel Surabaya. Dalam perkembangannya, lembaga ini mandiri menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri pada tahun 1998.

Dua puluh tahun berselang, tepatnya pada 2018, statusnya naik menjadi IAIN Kediri. Proses transformasi formal menjadi UIN Syekh Wasil Kediri akhirnya terealisasi pada tahun 2025. Saat ini, UIN Syekh Wasil Kediri telah menaungi 4 Fakultas dan 1 Program Pascasarjana serta telah berakreditasi unggul.

Bersamaan dengan peresmian alih status tersebut, Menteri Agama juga menandatangani prasasti peresmian tiga gedung baru, yaitu Gedung Pusat Terpadu (GPT), Gedung Kuliah Terpadu (GKT), dan Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Ketiga proyek infrastruktur tersebut dibangun melalui pendanaan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) guna menunjang mutu perkuliahan dan daya tampung mahasiswa.

Tampak hadir Sekretaris Jenderal Kamaruddin Amin, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Amin Suyitno, Direktur Diktis Sahiron, Rektor UIN Syekh Wasil Kediri Wahidul Anam, Stafsus Menag Farid Saenong, Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Thobib Al Asyhar beserta para rektor di lingkungan Kemenag, jajaran dosen dan civitas akademika. (DEN)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *