Menag Minta PTKI Jawab Tantangan Era Post-Truth

Dok.Kemenag

FACEINDONESIA.CO.ID – Menteri Agama Nasaruddin Umar meminta Perguruan Tinggi Islam bisa berkembang menjadi pusat pencerahan pendidikan agama yang mampu menjawab tantangan masyarakat perkotaan dan era post-truth.

Pesan tersebut disampaikan Menag dalam Peresmian Institut Agama Islam Al-Irsyad Jakarta. Peresmian ini ditandai dengan penyerahan Surat Keputusan Menteri Agama tentang Izin Institut Agama Islam Al-Irsyad Jakarta kepada Ali Saman Hasan, selaku Ketua Yayasan Bina Ilmu Irsyadi dan Dewan Penyelenggara Institut Agama Islam Al-Irsyad Jakarta. Dalam kesempatan itu, dilakukan juga penandatanganan prasasti dan peresmian simbolis Institut Agama Islam Al-Irsyad Jakarta.

Bacaan Lainnya

Menag menekankan bahwa kehadiran perguruan tinggi Islam sangat dibutuhkan untuk memperkuat tradisi keilmuan, membentuk akhlak, serta menghadirkan pencerahan bagi masyarakat. Menurutnya, pendidikan tinggi Islam memiliki peran strategis dalam membekali generasi muda agar mampu menghadapi perubahan sosial dan arus informasi yang semakin cepat.

“Kita berada pada suatu situasi yang biasa kita sebut dengan post-truth. Ketika kebenaran itu tidak semudah lagi kita wujudkan (seperti) pada masa-masa yang lampau,” ujar Menag.

Menag menjelaskan, tantangan pendidikan Islam saat ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi juga dengan kemampuan menjaga kebenaran di tengah derasnya arus informasi. Ia menilai, masyarakat kini berada dalam situasi ketika informasi, opini, dan persepsi publik dapat berubah dengan cepat, terutama melalui media sosial.

Menag menyerahkan Surat Keputusan Menteri Agama tentang Izin Institut Agama Islam Al-Irsyad Jakarta kepada Ketua Yayasan Bina Ilmu Irsyadi dan Dewan Penyelenggara Institut Agama Islam Al-Irsyad Jakarta Ali Saman Hasan
Karena itu, Menag mengingatkan pentingnya perguruan tinggi Islam membekali mahasiswa dengan nalar kritis, kepekaan sosial, dan pemahaman keagamaan yang kuat. Mahasiswa juga perlu memahami dinamika masyarakat perkotaan agar mampu berperan secara bijak di tengah perubahan sosial.

“Maka itu saya mohon kepada nanti para mahasiswa, mari kita pintar-pintar bermain di perkotaan. Sebab kita berada pada suatu situasi di mana kebenaran itu tidak bisa serta-merta hanya itu yang kita jadikan pegangan,” kata Menag.

Menag menilai, nama Al-Irsyad memiliki makna penting yang perlu diwujudkan dalam kerja kelembagaan. Irsyad, menurut Menag, berkaitan dengan petunjuk, bimbingan, dan pencerahan. Karena itu, IAI Al-Irsyad Jakarta diharapkan tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan generasi yang berilmu, berakhlak, dan membawa manfaat bagi umat.

“Al-Irsyad ini kami sangat berharap memberikan pencerahan terhadap masyarakat kita,” tutur Menag.

Menag juga menekankan bahwa pendidikan Islam memiliki kekhasan dalam membangun keseimbangan antara rasionalitas, spiritualitas, dan akhlak. Menurutnya, perguruan tinggi Islam tidak cukup hanya mengembangkan kecerdasan intelektual, tetapi juga perlu menguatkan nurani, penghayatan, serta tanggung jawab moral peserta didik.

“Dalam Islam, sumber pembelajaran itu bukan hanya deduksi akal,” ungkap Menag.

Menurut Menag, pendidikan tinggi Islam perlu menghadirkan proses pembelajaran yang tidak hanya bertumpu pada kemampuan berpikir, tetapi juga menghidupkan tradisi tafakkur, tadzakkur, penghayatan, dan pembentukan karakter. Dengan begitu, kampus dapat menjadi ruang pengembangan ilmu sekaligus ruang pembinaan kepribadian.

Ia berharap IAI Al-Irsyad Jakarta mampu menjaga substansi keislaman sekaligus mengembangkan tradisi ilmu yang relevan dengan kebutuhan zaman. Dengan demikian, kampus dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya berpengetahuan, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan kepedulian sosial.

Dalam kesempatan itu, Menag juga mendorong IAI Al-Irsyad Jakarta untuk terus mengembangkan visi kelembagaannya. Menurutnya, Islam memiliki cakupan keilmuan yang luas dan universal, sehingga lembaga pendidikan Islam perlu memiliki pandangan besar dalam membangun peran akademik dan sosialnya.

“Al-Irsyad jangan berhenti hanya sampai di tingkat institut. Harus menjadi universitas,” pesan Menag.

Menag pun mengajak para dosen dan civitas akademika IAI Al-Irsyad Jakarta untuk menjadikan kampus sebagai ruang intelektual dan spiritual yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.

“Saya mohon betul kepada para dosen, mari kita menjadikan IAI Al-Irsyad ini oase spiritual di tengah kegersangan Kota Metropolitan Jakarta,” ucap Menag.

Peresmian Institut Agama Islam Al-Irsyad Jakarta diharapkan menjadi langkah awal bagi penguatan pendidikan tinggi Islam yang mencerahkan, berakar pada tradisi keilmuan, serta berorientasi pada kemaslahatan umat, bangsa, dan negara.(DEN)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *