Saat Banjir Sumatra, Ratusan Warga Mengungsi di Lantai Dua SBSN MTsN 2 Langkat

Dok.Kemenag

FACEINDONESIA.CO.ID – Banjir yang melanda wilayah Sumatera Utara, beberapa waktu lalu menyisakan cerita ketangguhan sekaligus solidaritas. Di tengah situasi darurat, Gedung Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) milik Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Langkat menjelma menjadi titik aman bagi ratusan warga yang terdampak.

Hal itu disampaikan Kepala MTsN 2 Langkat, Zulkifli Hasibuan, saat mendampingi peninjauan pascabencana oleh Tim Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Langkat, Kamis (23/4/2026).

Bacaan Lainnya

Menurut Zulkifli, banjir terjadi akibat hujan dengan intensitas yang meningkat secara bertahap, dari gerimis hingga hujan deras yang berlangsung tanpa henti. Kondisi ini menyebabkan air naik cepat di kawasan permukiman warga.

“Awalnya hanya setinggi mata kaki, namun terus meningkat hingga mencapai satu sampai dua meter. Saat air mulai setengah meter, warga mulai panik dan mencari tempat yang lebih aman,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, Gedung SBSN yang memiliki dua lantai menjadi pilihan warga untuk menyelamatkan diri. Meski lantai pertama turut tergenang, lantai dua gedung tersebut mampu menampung sekitar 200 jiwa. Sementara itu, gedung lama bertingkat milik madrasah juga dimanfaatkan sebagai lokasi pengungsian tambahan dengan kapasitas sekitar 75 hingga 100 orang.

Akses menuju lokasi pengungsian pun tidak mudah. Distribusi bantuan logistik seperti makanan dan minuman harus dilakukan menggunakan perahu karet milik BPBD serta sampan milik warga setempat.

“Transportasi darurat sangat bergantung pada perahu karet BPBD dan sampan nelayan. Ini menjadi satu-satunya cara untuk menjangkau para pengungsi,” jelasnya.

Di sisi lain, dampak banjir terhadap warga cukup signifikan. Meski tidak ada korban jiwa dari kalangan siswa MTsN 2 Langkat yang berjumlah 718 orang, kerugian materiil tidak dapat dihindari. Sejumlah rumah warga dilaporkan tenggelam hingga ke bagian atap, bahkan ada yang hanyut dan rusak parah.

Kisah dramatis juga dialami salah seorang guru yang harus menyelamatkan diri hingga ke bubungan atap rumah akibat tingginya genangan air. Dalam situasi tersebut, ia sempat terpisah dari anak dan suaminya.

Selain permukiman, sektor pertanian turut terdampak. Sawah milik warga dilaporkan rusak total akibat terendam banjir.

Menghadapi musibah ini, Zulkifli mengajak semua pihak untuk mengambil hikmah dan berharap kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. “Ini adalah ujian. Kita serahkan kepada Allah SWT, sembari berharap ke depan ada upaya perbaikan agar bencana seperti ini tidak terjadi lagi,” pungkasnya. (San)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *