FACEINDONESIA.CO.ID – Lembaga Administrasi Negara (LAN) dengan bangga mempersembahkan Indonesia Leadership Outlook 2026, sebuah kajian strategis yang mengulas kesiapan pemimpin sektor publik Indonesia dalam pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dan arah pengemabangannya kedepan. Dokumen ini diharapkan menjadi rujukan bagi para pemimpin dan pengambil kebijakan dalam merumuskan strategi kepemimpinan yang adaptif, inovatif, dan berorientasi pada kepentingan publik.
Pengumpulan data kajian ini dilakukan melalui survei terhadap 2.285 pemimpin sektor publik dari berbagai jenjang jabatan, mulai dari JPT Madya hingga Jabatan Pengawas, yang merepresentasikan aktor kunci dalam pengambilan keputusan dan implementasi kebijakan. Analisis juga dilengkapi dengan kajian literatur serta data sekunder dari berbagai sumber nasional dan internasional.
Tahun 2026 menjadi fase krusial dalam transformasi pemerintahan Indonesia, di mana pemanfaatan AI tidak lagi sekadar isu teknologi, melainkan isu strategis dalam kepemimpinan dan tata kelola pemerintahan. Kajian ini menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital sangat bergantung pada kualitas kepemimpinan digital yang mampu menjembatani inovasi teknologi dengan akuntabilitas publik dan kinerja organisasi.
Hasil kajian menunjukkan bahwa tingkat kesadaran terhadap AI di kalangan pemimpin sektor publik relatif tinggi, dengan 89,4 persen responden menyatakan mengetahui atau sangat mengetahui tentang AI. Namun demikian, pemahaman yang mendalam masih terbatas, dan literasi AI umumnya berada pada tahap konseptual dan penggunaan praktis, belum mencapai level evaluasi kritis dan pengembangan sistem.
Dari sisi pemanfaatan, sebanyak 85 persen responden telah menggunakan aplikasi berbasis AI, terutama untuk fungsi teknis seperti pencarian informasi, penyusunan materi, dan eksplorasi ide. Meski demikian, penggunaan AI masih didominasi pada level individu dan belum sepenuhnya terintegrasi dalam proses bisnis strategis organisasi. Selain itu, masih terdapat 39,3 persen responden yang jarang atau belum pernah menggunakan AI, menunjukkan adanya kesenjangan adopsi antar jenjang jabatan dan kelompok usia.
Kajian ini juga mengidentifikasi sejumlah tantangan utama dalam adopsi AI di sektor publik, antara lain kesenjangan literasi AI, keterbatasan kebijakan, isu keamanan siber dan perlindungan data, serta resistensi budaya organisasi terhadap perubahan. Tantangan-tantangan tersebut menunjukkan bahwa transformasi berbasis AI memerlukan pendekatan yang komprehensif, tidak hanya dari sisi teknologi, tetapi juga dari aspek kepemimpinan dan tata kelola.
Dalam menghadapi era AI, Indonesia Leadership Outlook 2026 menekankan pentingnya kepemimpinan digital yang mampu mengorkestrasi perubahan organisasi, membangun budaya pembelajaran, serta memastikan pemanfaatan AI berjalan secara etis, transparan, dan berorientasi pada penciptaan nilai publik. Kepemimpinan masa depan dituntut untuk tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu mengelola risiko, memperkuat kolaborasi lintas sektor,
dan menjaga kepercayaan publik di tengah kompleksitas lingkungan digital.
Indonesia Leadership Outlook 2026 menegaskan bahwa sektor publik Indonesia telah memasuki fase awal adopsi AI dengan tingkat kesadaran yang tinggi dan pemanfaatan yang mulai meluas. Namun, keberhasilan transformasi ke depan sangat ditentukan oleh kemampuan pemimpin dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam tata kelola pemerintahan secara strategis dan berkelanjutan, guna mendukung terwujudnya pemerintahan yang responsif, efektif, dan berorientasi pada masyarakat. (Wis)





