FACEINDONESIA.CO.ID – Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Abu Rokhmad, mengapresiasi Gerakan Nasional 100.000 Khataman Al-Qur’an yang diinisiasi penyuluh agama Islam di seluruh Indonesia dalam rangka menyambut malam Lailatul Qadar Ramadan 1447 H.
Menurutnya, gerakan ini bukan sekadar kegiatan tilawah Al-Qur’an, tetapi juga menjadi momentum spiritual untuk memanjatkan doa terbaik bagi bangsa dan negara. “Gerakan khataman Al-Qur’an ini merupakan ikhtiar spiritual bersama. Kita berharap doa-doa yang dipanjatkan melalui bacaan Al-Qur’an membawa keberkahan, kedamaian, dan kebaikan bagi bangsa Indonesia,” ujarnya dalam kegiatan puncak Gerakan Nasional 100.000 Khatmil Qur’an yang diselenggarakan Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI), di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Abu Rokhmad menegaskan bahwa peran penyuluh agama sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa kata penyuluh berasal dari kata suluh, yang berarti cahaya atau penerang. “Penyuluh adalah orang yang menerangi masyarakat. Ia membuat terang benderang hal-hal yang gelap dan memberikan arah bagi hal-hal yang masih remang-remang,” jelasnya.
Karena itu, lanjutnya, tugas penyuluh tidak hanya menjalankan fungsi administratif sebagaimana diatur dalam regulasi negara. Lebih dari itu, penyuluh juga menjalankan tugas mulia yang selama ini dilakukan para ulama, seperti mengajarkan Al-Qur’an, membimbing masyarakat dalam tata cara ibadah, serta memperkuat kehidupan keagamaan di tengah umat.
“Penyuluh bukan hanya menjalankan tugas negara, tetapi juga menjalankan tanggung jawab keagamaan. Ini adalah tugas yang sangat mulia,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kinerja penyuluh perlu diukur secara nyata melalui dampaknya di tengah masyarakat, misalnya berapa banyak majelis yang dibina, berapa banyak masyarakat yang diajarkan tahsin Al-Qur’an, serta berapa banyak yang akhirnya mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar.
Selain itu, Dirjen Bimas Islam mengajak para penyuluh untuk aktif berpartisipasi dalam sejumlah gerakan pembinaan umat yang saat ini sedang dikembangkan oleh Kementerian Agama.
Pertama, Gerakan Fasholatan, yaitu gerakan pembinaan masyarakat agar dapat melaksanakan shalat dengan baik dan benar. “Kita ingin memastikan masyarakat memahami tata cara shalat dengan benar. Jangan sampai ada masyarakat yang tidak bisa shalat dengan baik, sementara kita ada di tengah mereka,” ujarnya.
Kedua, program Masjid Ramah Pemudik (MRP). Melalui program ini, penyuluh agama diharapkan dapat berkoordinasi dengan Kantor Urusan Agama (KUA) untuk menyusun jadwal piket pelayanan di masjid-masjid yang dilalui pemudik, sehingga masjid dapat menjadi tempat singgah yang nyaman bagi masyarakat selama masa mudik.
Ketiga, Gerakan Jum’ah (GEMAH) ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang dilaksanakan setiap hari Jumat. Gerakan ini sejalan dengan arahan Presiden tentang Gerakan Indonesia ASRI, yang mendorong seluruh jajaran Kementerian Agama, termasuk penyuluh agama, untuk bersama-sama membersihkan lingkungan kantor KUA, masjid, musala, dan lingkungan sekitar.
Menurut Dirjen Bimas Islam, ketiga gerakan ini diharapkan dapat memperkuat peran penyuluh agama sebagai penggerak kehidupan keagamaan sekaligus penguat nilai-nilai sosial di tengah masyarakat.
“Jika para penyuluh agama bergerak bersama, maka pengaruhnya akan sangat besar dalam membangun masyarakat yang religius, rukun, dan berakhlak mulia,” pungkasnya. (San)





