Haflah Al-Qur’an di Palembang: dari Tajwid Bacaan menuju Tajwid Amalan

Dok.Kemenag

FACEINDONESIA.CO.ID – Kementerian Agama menggelar Haflah Al-Qur’an yang digelar di Griya Agung Gubernur Sumatra Selatan, Selasa (3/3/2026). Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama Direktorat Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, LPTQ Sumatera Selatan, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Selatan.

Haflah Al-Qur’an menjadi bagian dari rangkaian Joyful Ramadhan Mubarak. Giat ini menghadirkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dari para qari berprestasi di tingkat nasional dan internasional.

Bacaan Lainnya

Hadir, H. Darwin Hasibuan, Juara II MTQ Internasional di Teheran, Iran (2011); Ahmad Khairi Novandra, Juara I MTQ Internasional di Tanzania (2025); serta Fauzi Ridwan, Juara I STQH Nasional cabang Tilawah Dewasa pada STQH Nasional 2025 di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Selama kurang lebih satu setengah jam, para qari tersebut memperdengarkan bacaan Al-Qur’an dengan suara yang merdu dan penuh penghayatan. Lantunan ayat-ayat suci itu menghadirkan suasana khusyuk sekaligus menggugah, dan disambut antusias oleh masyarakat yang hadir memenuhi lokasi acara.

Hadir juga, sejumlah pejabat daerah dan tokoh masyarakat, antara lain Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan Syafitri Irwan, Karo Kesra Pemprov Sumsel Sunarto, Kepala Dinas Perkebunan Sumsel, Ketua LPTQ Sumsel Iskandar Zulkarnaen, Ketua Baznas Sumsel, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Palembang, serta berbagai unsur masyarakat lainnya.

Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama Muchlis M. Hanafi, mengingatkan bahwa Ramadan adalah bulan Al-Qur’an, bulan ketika umat Islam diajak untuk kembali mempererat hubungan dengan kitab suci sebagai sumber petunjuk kehidupan.

“Ramadan adalah momentum terbaik untuk kembali mendekat kepada Al-Qur’an, bukan hanya dengan membacanya, tetapi juga dengan menghidupkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa umat Islam tidak hanya perlu memperhatikan tajwid bacaan, tetapi juga tajwid amalan. Tajwid, yang secara bahasa berarti memperindah atau memperbagus, tidak hanya berlaku dalam membaca Al-Qur’an—melalui kaidah panjang pendek bacaan dan makharijul huruf—tetapi juga dalam memperindah perilaku dan amal kehidupan sehari-hari dengan nilai-nilai Al-Qur’an.

“Selama ini kita sering berbicara tentang tajwid bacaan, yaitu memperindah cara membaca Al-Qur’an. Namun yang tidak kalah penting adalah tajwid amalan, yaitu memperindah kehidupan kita dengan nilai dan ajaran Al-Qur’an,” kata Muchlis.

Menurutnya, akhlak Rasulullah SAW merupakan manifestasi Al-Qur’an dalam kehidupan nyata. Karena itu, nilai-nilai akhlak Al-Qur’an perlu terus dihidupkan, terutama dalam menghadapi tantangan kehidupan modern sekaligus memperkuat karakter kebangsaan.

“Al-Qur’an tidak boleh berhenti hanya sebagai bacaan yang indah dilantunkan. Ia harus hadir sebagai pedoman hidup yang membentuk akhlak, membimbing masyarakat, dan menguatkan peradaban,” tambahnya.

Lebih lanjut ia menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak seharusnya berhenti pada aktivitas membaca, menghafal, atau sekadar didengarkan. Umat Islam juga perlu memahami, menafsirkan sesuai konteks zaman, mengamalkan, serta menyebarkan pesan-pesannya kepada masyarakat luas.

Menurut Muchlis, perpaduan antara bacaan, hafalan, pemahaman, penafsiran, penghayatan, pengamalan, dan penyiaran Al-Qur’an akan melahirkan transformasi nyata dalam kehidupan, baik pada tingkat individu maupun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Kegiatan Haflah Al-Qur’an ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menghidupkan suasana Ramadan dengan nilai-nilai Al-Qur’an, sekaligus menumbuhkan dan memperkuat kecintaan masyarakat terhadap kitab suci sebagai sumber inspirasi moral dan peradaban.

Program Haflah Al-Qur’an dan Para Juara: Road to Nusantara Ramadan 1447 H dilaksanakan di tiga kota, yakni Bima, Nusa Tenggara Barat (24–26 Februari), Palembang, Sumatera Selatan (3–4 Maret), dan Samarinda, Kalimantan Timur (4–6 Maret). Rangkaian kegiatan ini menghadirkan para qari berprestasi nasional dan internasional untuk menghidupkan malam-malam Ramadan dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an di berbagai daerah.

Melalui rangkaian kegiatan ini, diharapkan Al-Qur’an tidak hanya hadir sebagai bacaan yang indah didengar, tetapi juga menjadi pedoman hidup yang dipahami, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Ramadan menjadi momentum untuk kembali meneguhkan hubungan umat dengan Al-Qur’an—membacanya dengan baik, memahami pesan-pesannya, serta menjadikannya sumber inspirasi dalam membangun pribadi, masyarakat, dan peradaban yang lebih berakhlak dan berkeadaban. (San)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *