BI Dorong Ekonomi Digital RI Tembus Rp6.066 Triliun

FACEINDONESIA.CO.ID- Bank Indonesia (BI) terus mendorong transformasi ekonomi dan keuangan digital nasional untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, serta memperluas manfaat digitalisasi bagi masyarakat.

Potensi ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai 180-340 miliar dolar AS pada 2030, atau sekitar Rp3.211,9 triliun hingga Rp6.066,9 triliun.

Bacaan Lainnya

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, percepatan transformasi digital diperlukan di tengah prospek ekonomi global yang belum kuat, ketidakpastian pasar keuangan, serta risiko digital yang semakin kompleks.

Hal tersebut menjadi fokus Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) dan Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) 2026 yang digelar bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, 24-26 September 2026.

“FEKDI dan IFSE 2026 menjadi wujud nyata sinergi untuk mengakselerasi ekonomi dan keuangan digital melalui kebijakan dengan prinsip 3I, yaitu Impactful, Inklusif, dan Integratif,” ujar Destry, Kamis (24/9/2026).

Menurutnya, transformasi digital tidak hanya memperluas penggunaan teknologi, tetapi juga harus meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta perekonomian nasional.

BI menjalankan tiga jalur utama melalui Sinergi Merah Putih, yakni kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas harga, kebijakan makroprudensial untuk memperkuat ketahanan sistem keuangan, serta pengembangan sistem pembayaran melalui inovasi, perluasan akses, dan modernisasi infrastruktur hingga 2030.

Penguatan ekosistem digital juga terlihat dari transaksi ekonomi dan keuangan digital yang pada Agustus 2026 tumbuh 40,36 persen secara tahunan menjadi 6,11 miliar transaksi.

Sementara itu, pengguna Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) telah mencapai 69,32 juta orang dengan jumlah merchant sebanyak 47,11 juta.

QRIS juga telah terhubung dengan Malaysia, Singapura, Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan China. BI terus mengupayakan konektivitas dengan Vietnam, Timor Leste, Hong Kong, dan Arab Saudi.

Dari sisi infrastruktur, volume transaksi ritel melalui BI-FAST mencapai 549 juta transaksi dengan nilai Rp1.346 triliun.

Potensi Ekonomi Digital

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, potensi ekonomi digital Indonesia diperkirakan menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara.

Pada 2025, nilai ekonomi digital Indonesia mendekati 100 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.784,4 triliun. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 180-340 miliar dolar AS pada 2030.

Peluang tersebut semakin terbuka dengan adanya Digital Economy Framework Agreement (DEFA) di tingkat ASEAN yang direncanakan ditandatangani dalam ASEAN Summit pada November 2026.

Implementasi DEFA diperkirakan dapat meningkatkan potensi nilai ekonomi digital ASEAN pada 2030 dari sekitar 1 triliun dolar AS menjadi hingga 2 triliun dolar AS.

“Artinya, potensi nilai ekonomi digital Indonesia juga akan naik,” kata Airlangga.(ZID)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *