Wamen Isyana: Keluarga Tempat Keterampilan Hidup Anak Tumbuh dan Berakar

Seorang Ibu bermain bersama anak-anaknya pada acara Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) di Kampung Pusu, Timor Tengah Selatan, NTT (28/10/2025) *Yudistira

FACEINDONESIA.CO.ID – Keluarga adalah ruang pertama tempat seorang anak belajar mengenal dunia. Di sanalah nilai, kasih sayang, dan keterampilan hidup tumbuh dan berakar. Demikian disampaikan Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, S.Sos, saat membuka Talkshow “Kelas Orangtua Hebat”, yang digelar secara hybrid, Senin (8/12/2025). Kegiatan ini merupakan salah satu sesi kunci dalam rangkaian acara Apresiasi Program Pengasuhan Anak Usia Dini 2025.

Dalam sesi diskusi, Dr. Fitri Hartanto, Sp.A(K) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menegaskan bahwa lima tahun pertama kehidupan merupakan fase emas perkembangan anak, di mana 80 persen pertumbuhan otak terjadi sebelum usia dua tahun. Ia mengingatkan bahwa kesalahan pengasuhan pada periode ini dapat berdampak jangka panjang karena pola tersebut terekam permanen dalam sistem saraf anak.

Bacaan Lainnya

Untuk itu, pemenuhan kebutuhan dasar seperti nutrisi, imunisasi, pola hidup bersih, dan kasih sayang yang positif harus diutamakan sebelum memberikan stimulasi belajar. Mengacu pada temuan lapangan, IDAI mengusulkan enam tema kelas pengasuhan untuk 2026, termasuk bahaya paparan gawai di periode emas, deteksi dini keterlambatan bicara, tantrum dan regulasi emosi, serta mitos dan fakta imunisasi.

Sementara itu, Dr. Weni Endahing Warni, M.Psi, psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), menyoroti meningkatnya fenomena sosial yang memengaruhi dinamika keluarga, mulai dari stres orang tua (parenting stress), kelelahan psikologis (burnout), kekerasan dalam rumah tangga, perubahan struktur keluarga, hingga maraknya kasus cyberbullying dan adiksi gawai pada anak. Menurutnya, penguatan pengasuhan responsif menjadi kebutuhan mendesak agar orang tua mampu menciptakan lingkungan emosional yang aman dan sehat bagi anak.

Dari sisi gizi, Dr. Lucy Windasari, M.Si, dari Persatuan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI), menekankan perlunya pemenuhan gizi seimbang sejak masa janin hingga prasekolah. Tantangan seperti anak sulit makan, penurunan berat badan, dan risiko anemia masih banyak ditemui dalam praktik pengasuhan sehari-hari. Menurutnya, kebiasaan makan sehat keluarga menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang anak yang optimal.

Sesi tanya jawab menunjukkan tingginya perhatian orang tua terhadap isu keterlambatan bicara, tantrum, anak yang sulit makan, hingga ketakutan berlebih pada anak. Para pakar menekankan bahwa kunci utama terletak pada kapasitas orang tua, mulai dari kesehatan mental, pola komunikasi, hingga konsistensi dalam memberikan contoh perilaku. Anak belajar terutama melalui interaksi dan keteladanan; sehingga keluarga menjadi lingkungan paling menentukan bagi keberhasilan perkembangan anak. (San)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *