Suhu Dingin Mencapai -7 Derajat Celsius, Tantangan Dai Ambassador Dompet Dhuafa Berdakwah di Jerman

Dok.Dompet Dhuafa

FACEINDONESIA.CO.ID – Setelah lima hari mengikuti rangkaian pelatihan intensif, para Dai Ambassador Dompet Dhuafa resmi berangkat menuju negara penugasan masing-masing. Salah satunya adalah Wahyu Septrianto, S.Ag., M.Ag. yang mendapat amanah untuk melaksanakan misi dakwah dari Dompet Dhuafa di Jerman. Ia harus menempuh perjalanan panjang di udara untuk menuju negara penugasan. Di Bandara Soekarno-Hatta, setelah doa dan pesan singkat dari perwakilan Dompet Dhuafa, ia siap menempuh perjalanan menuju Eropa.

“Ini adalah pengalaman pertama saya menempuh perjalanan panjang. Di misi kali ini saya harus menempuh penerbangan kurang lebih 18 jam, termasuk transit 3 jam di Istanbul, Turki. Meski menjadi pengalaman pertama menempuh perjalanan jauh lintas benua tanpa didampingi siapa pun. Di dalam hati sempat muncul keraguan, namun keyakinan bahwa Allah SWT akan memberikan kemudahan bagi niat yang tulus terus menguatkan langkah saya,” jelas Wahyu Septrianto, kepada tim Dompet Dhuafa, pada Jumat (20/2/2026).

Bacaan Lainnya

Wahyu mengisahkan, setelah menempuh perjalanan panjang dengan lancar dan selamat, ia tiba di Bremen Airport pada pukul 09.00 waktu setempat. Tentu setiba di Jerman, cuaca dingin menjadi sambutan pertama bagi Wahyu.

“Setibanya di bandara, Pak Gery Vidjaja, Mas Jundu Hanafi, dan Pak Aditya Saty, para diaspora Indonesia yang tergabung dalam Keluarga Muslim Indonesia Bremen (KMIB), yang juga menjadi mitra Dompet Dhuafa, sudah menyambut kedatangan saya. Namun, sepanjang perjalanan menuju lokasi, suhu udara yang sangat dingin, mencapai -7o Celsius adalah tantangan baru. Sesekali, salju turun perlahan. Pemandangan ini menjadi pengalaman pertama yang begitu mengesankan. Sesuatu yang nyaris mustahil ditemui di Indonesia. Masyaallah, kebesaran Allah SWT terasa nyata dalam hamparan putih yang menyelimuti kota Bremen,” tambah Wahyu.

Sekitar 15 menit kemudian, ia dan rombongan tiba di Mushola Ar-Raudhah, tempat utama pelaksanaan dakwah selama di Bremen, Jerman. Musholanya sederhana dan tidak besar, namun semangat keislaman yang hidup di dalamnya terasa sangat kuat. Kedatangan Dai Ambassador Dompet Dhuafa disambut puluhan diaspora Indonesia yang tergabung dalam KMIB. Suasana yang tercipta begitu hangat, layaknya keluarga besar. Para ibu sibuk memasak di dapur, sebagian lainnya membawa makanan dari rumah untuk disantap bersama. Para mahasiswa menyiapkan tempat dan perlengkapan acara, sementara anak-anak tetap mengikuti kegiatan TPA dan belajar mengaji, karena hari itu memang jadwal masuk mereka. Tentu semuanya menjadikan kehangatan di tengah cuaca yang sangat dingin.

“Saudara muslim di Bremen, ternyata menyiapkan sebuah acara. Ketika sedang istirahat, saya dipanggil untuk mengikuti rangkaian acara. Acara dibuka oleh pembawa acara dan sambutan dari Pak Gery Vidjaja selaku Ketua KMIB. Selanjutnya, saya mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan diri kepada seluruh jamaah. Kemudian acara diteruskan dengan tausiyah Tarhib Ramadan,” ungkap Wahyu.

Ini menjadi kesan pertama yang begitu mendalam bagi Wahyu Septrianto yang terasa sejak hari pertama. Di tengah kondisi sebagai Muslim minoritas, masyarakat Indonesia di Bremen mampu menjaga ajaran Islam dengan kuat. Kerukunan, kekompakan, serta semangat menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 H menjadi bukti bahwa dakwah tidak mengenal batas geografis. Di negeri yang jauh dari tanah air, Islam tetap hidup, hangat, bersahaja, dan penuh cinta. (San)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *