FACEINDONESIA.CO.ID- Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menghadirkan fasilitas belajar yang lebih nyaman bagi murid TK Maarif Al-Fattah di Surabaya, Jawa Timur. Melalui bantuan sebesar Rp268 juta, sekolah tersebut kini memiliki ruang kelas baru serta lingkungan belajar yang lebih tertata.
Hadirnya fasilitas baru ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas pemerataan sarana pendidikan, termasuk bagi lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) swasta. Pemerintah memastikan bantuan revitalisasi dapat menjangkau satuan pendidikan tanpa membedakan status negeri maupun swasta.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal, Gogot Suharwoto, meninjau langsung hasil revitalisasi TK Maarif Al-Fattah dalam kunjungan kerjanya di Surabaya, Sabtu (7/11/2026).
Gogot menjelaskan, program revitalisasi merupakan tindak lanjut arahan Presiden untuk memperbaiki sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan di seluruh Indonesia. Pemerintah menargetkan perbaikan seluruh sekolah rusak dapat diselesaikan paling lambat pada 2028.
“Intinya, Pak Presiden memberikan arahan bahwa semua sekolah yang rusak di Indonesia itu akan kita selesaikan paling lambat 2028,” ujarnya.
Di Jawa Timur, program revitalisasi pada 2025 telah menjangkau 1.651 satuan pendidikan dengan total bantuan mencapai Rp1,307 triliun. Penerimanya terdiri atas 174 PAUD, 680 SD, 321 SMP, 215 SMA, 177 SMK, 67 SLB, 14 SKB/PKBM, dan 3 PAUD USB.
Sementara pada 2026, sebanyak 5.514 satuan pendidikan di Jawa Timur telah menandatangani perjanjian kerja sama pelaksanaan revitalisasi. Total bantuan yang dialokasikan mencapai Rp4,101 triliun, meliputi 2.109 PAUD, 2.287 SD, 352 SMP, 248 SMA, 389 SMK, 121 SLB, 7 SKB/PKBM, dan 1 USB PAUD.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, mengapresiasi dukungan Kemendikdasmen dalam meningkatkan kualitas fasilitas pendidikan. Menurutnya, revitalisasi menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih baik dan nyaman bagi anak-anak.
“Teman-teman sekolah menerima dengan sangat senang hati. Ini menjadi bagian dari perbaikan mutu sekolah kita, sekolah yang ada di Surabaya salah satunya. Anak-anak juga bisa merasa mempunyai rumah kedua,” kata Febrina.
Kepala TK Maarif Al-Fattah, Luluk Huda Nuraini, mengungkapkan bahwa sebelum mendapatkan bantuan, sekolah menghadapi keterbatasan ruang kelas. Bahkan, untuk menampung dua rombongan belajar, satu ruangan harus dibagi menggunakan sekat.
Setelah revitalisasi, sekolah kini memiliki ruang kelas baru yang dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar pada Senin hingga Jumat. Ruangan tersebut juga dimanfaatkan sebagai ruang multifungsi untuk berbagai aktivitas murid pada hari Sabtu.
Luluk mengaku bersyukur atas bantuan yang diterima melalui program revitalisasi tahun 2026 tersebut.
“Saya mendapatkan hadiah dari program revitalisasi tahun 2026. Alhamdulillah, saya merasa sangat senang. Semula gedung ini sudah lama, sehingga dengan mendapatkan ruangan ini saya sangat bersyukur,” tuturnya.
Selain pembangunan fasilitas fisik, TK Maarif Al-Fattah juga memperoleh dukungan digitalisasi pembelajaran berupa Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP).
Perangkat tersebut digunakan untuk membuat proses belajar mengajar lebih menarik dan interaktif. Para guru juga telah mendapatkan pelatihan agar mampu memanfaatkan teknologi digital tersebut secara optimal.
Guru TK Maarif Al-Fattah, Lusi Ambarsari, mengatakan penggunaan PID membawa perubahan dalam metode pembelajaran. Jika sebelumnya kegiatan belajar lebih banyak mengandalkan modul dan penjelasan langsung, kini guru dapat menggunakan salindia, video, hingga permainan edukatif.
Menurut Lusi, metode pembelajaran digital membuat anak-anak lebih antusias dalam mengikuti kegiatan di kelas, terutama saat belajar mengenal huruf, membaca, dan berhitung.
“Kami senang sekali. Dengan pembelajaran ini, anak-anak semakin bersukacita. Misalnya, melalui permainan atau pengenalan huruf. Bagi mereka, belajar dengan IFP terasa lebih nyata dibandingkan hanya mendengar cerita dari Ibu Guru,” ungkapnya.
Antusiasme tersebut juga dirasakan para murid. Salah satunya Khalisa Rafifah Humaira yang mengaku senang belajar menggunakan perangkat digital berukuran besar tersebut.
“Saya sangat senang bermain dengan TV besar. Ada game-nya, bisa berhitung, bisa membaca,” kata Khalisa.
Melalui revitalisasi sekolah dan digitalisasi pembelajaran, Kemendikdasmen berharap semakin banyak satuan pendidikan memiliki fasilitas yang layak dan mampu menghadirkan proses belajar yang berkualitas, nyaman, serta menyenangkan bagi peserta didik.(ZID)





