Potret Kartini Digital

Alih-alih mengikuti jalur yang dianggap “aman” seperti bekerja kantoran atau menjadi pegawai negeri, Indo Angke memilih membangun usahanya sendiri dari desa tempat ia tinggal, di Banyuasin, Sumatera Selatan.

Sempat Diremehkan Usai Kuliah, Indo Angke Pilih Wirausaha

FACEINDONESIA.CO.ID – Mendobrak standar sosial—terutama yang sering dilekatkan pada perempuan—adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan jalan yang dipilih oleh Indo Angke (26). Alih-alih mengikuti jalur yang dianggap “aman” seperti bekerja kantoran atau menjadi pegawai negeri, Indo Angke memilih membangun usahanya sendiri dari desa tempat ia tinggal, di Banyuasin, Sumatera Selatan.

Bacaan Lainnya

Setelah menyelesaikan pendidikan, Indo Angke atau yang akrab disapa Angke sempat berada di fase yang tidak mudah. Sulitnya mencari pekerjaan, ditambah tekanan dari lingkungan sekitar, menjadi tantangan tersendiri. Komentar seperti “sudah lulus tapi belum kerja” menjadi hal yang harus ia hadapi hampir setiap hari.

“Yang paling berat itu bukan soal cari kerja atau uang, tapi omongan orang. Kayak ‘tamat kuliah kok cuma gini’—itu sering banget saya dengar,” ungkap Angke.

Namun, alih-alih larut dalam tekanan tersebut, ia justru menjadikannya sebagai titik balik. Angke mulai mempertanyakan standar kesuksesan yang selama ini dianggap baku. Baginya, setiap orang memiliki jalan yang berbeda.

“Saya pengen buktiin kalau jalan orang itu beda-beda. Lulus kuliah itu gak harus kerja kantoran, gak harus pakai seragam. Dari rumah pun kita bisa punya penghasilan yang cukup menjanjikan dari usaha agen pembayaran dan warung kelontong,” ujarnya.

 

Langkah Wirausaha Digital Berbuah Manis

Keputusan untuk memulai usaha sendiri pun menjadi langkah berani yang mengubah arah hidupnya. Dari awalnya memulai usaha kelontong di tahun 2024, Angke kemudian mulai menambahkan layanan pembayaran digital dengan memanfaatkan platform seperti Fastpay. Melalui satu aplikasi, ia dapat melayani berbagai kebutuhan transaksi masyarakat, mulai dari pembayaran tagihan hingga layanan keuangan lainnya, langsung dari rumah.

“Sekarang enaknya, cukup satu aplikasi saja sudah bisa melayani banyak transaksi. Jadi lebih cepat, gak perlu buka banyak aplikasi seperti dulu,” tambahnya.

Meski terlihat sederhana, perjalanan tersebut tidak lepas dari tantangan. Menjaga kepercayaan pelanggan menjadi hal yang krusial, terlebih di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat dan risiko digital yang terus meningkat.

“Sekarang makin canggih, tapi juga harus makin hati-hati. Karena makin banyak juga cara penipuan. Jadi kepercayaan pelanggan itu penting banget,” jelas Angke.

Di balik itu semua, ada satu hal yang membuatnya terus bertahan: dampak yang dirasakan oleh orang lain. Bagi Angke, usaha ini bukan hanya tentang menghasilkan uang, tetapi juga tentang membantu sesama.

“Kalau bisa bantu orang yang lagi butuh itu rasanya beda. Bukan cuma soal uangnya, tapi ada kepuasan sendiri ketika orang lain terbantu dengan usaha kita,” katanya.

Lebih jauh, Angke juga menyampaikan pesan bagi perempuan lainnya agar tidak selalu bergantung pada orang lain dalam menjalani hidup.

“Perempuan gak harus serba bisa, tapi minimal jangan selalu bergantung. Kalau kita bisa berdiri di kaki sendiri, kita gak akan takut melangkah, walaupun sendirian,” tegasnya.

Pandangan ini sejalan dengan upaya Fastpay sebagai aplikasi keagenan digital yang mendorong kemandirian ekonomi perempuan melalui pemanfaatan peluang digital. Manajer Fastpay, Aditiya Sulistiawan, menilai bahwa semakin banyak perempuan yang kini berani mengambil peran sebagai pelaku usaha mandiri.

“Kami melihat semakin banyak perempuan yang tidak lagi menunggu kesempatan, tapi justru menciptakan peluangnya sendiri. Menjadi agen layanan digital seperti Fastpay adalah salah satu cara yang relevan saat ini, karena bisa mulai usaha dari rumah dengan modal terjangkau,” ujar Aditiya.

Ia menambahkan bahwa peran perempuan dalam ekosistem keagenan digital sangat penting, tidak hanya untuk meningkatkan pendapatan keluarga, tetapi juga untuk memperluas akses layanan keuangan di masyarakat.

“Kemandirian perempuan bukan hanya berdampak pada dirinya sendiri, tapi juga pada lingkungan sekitarnya. Ketika perempuan berdaya, dampaknya bisa jauh lebih luas,” tambahnya.

Kisah Indo Angke menjadi salah satu bukti bahwa keberanian untuk keluar dari standar yang ada dapat membuka jalan baru. Di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi, peluang untuk mandiri kini semakin terbuka lebar—termasuk bagi perempuan yang ingin memulai dari langkah kecil, tanpa harus bergantung pada orang lain. (Wis)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *