FACEINDONESIA.CO.ID – Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, melihat potensi besar dalam praktik meditasi bukan hanya sebagai sarana spiritualitas, tetapi juga sebagai inovasi terapi kesehatan mental. Hal ini dijelaskan saat audiensi antara Menteri Agama dengan tokoh meditasi dunia, Father Laurence Freeman.
Dalam pertemuan ini, Father Laurence berbagi pengalaman mengenai keberhasilan integrasi meditasi dalam dunia medis, khususnya bagi pasien penderita penyakit kronis seperti HIV di India. Menag Nasaruddin Umar merespons positif gagasan tersebut dan membuka peluang kolaborasi lintas kementerian di Indonesia.
“Kami menanamkan benih meditasi dalam dunia medis untuk membantu mereka yang menderita. Awalnya, metode ini diterapkan di pusat-pusat penanganan HIV di India untuk membantu para pasien menemukan ketenangan di tengah penderitaan mereka,” ungkap Father Laurence Freeman.
Menag Nasaruddin Umar merespons positif gagasan tersebut dan membuka peluang kolaborasi lintas kementerian di Indonesia untuk mengadaptasi metode serupa dalam pelayanan kesehatan masyarakat.
“Ini sangat menarik. Kita bisa berkolaborasi dengan kementerian terkait untuk melakukan hal serupa di Indonesia. Meditasi memiliki kekuatan penyembuhan yang luar biasa,” ujar Menag menanggapi paparan Father Laurence di Kantor Kemenag Lapangan Banteng, Rabu (25/02/26).
Menag menekankan bahwa tantangan dunia modern saat ini adalah meningkatnya tekanan mental akibat hilangnya dimensi batin dalam kehidupan sehari-hari. Ia menilai bahwa agama harus menyentuh kedalaman spiritualitas untuk memberikan solusi nyata bagi ketenangan jiwa.
“Dunia saat ini menderita karena kita kehilangan dimensi batin dalam beragama. Jika kita hanya melihat aspek luar, kita akan selalu menemukan perbedaan. Namun, jika kita masuk ke dalam melalui meditasi atau zikir, kita akan menemukan kedamaian,” ungkap Menag.
Father Laurence juga menambahkan bahwa meditasi adalah praktik universal yang melampaui sekat-sekat formalitas agama. “Penting untuk membawa meditasi ke dalam struktur kepemimpinan dan komunitas medis karena ini adalah cara praktis untuk membantu manusia mengatasi krisis batin mereka,” imbuhnya.
Menutup pertemuan, Menag berencana mengkaji bagaimana praktik keheningan dan meditasi ini dapat diadaptasi ke dalam program penguatan mental, baik bagi aparatur negara maupun masyarakat umum. “Indonesia ingin menjadi tempat di mana ‘dialog dalam keheningan’ ini dipraktikkan sebagai solusi atas krisis mental dan spiritual. Keheningan adalah bahasa Tuhan yang universal,” pungkasnya. (San)





